Tampilkan postingan dengan label Inspiring Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiring Story. Tampilkan semua postingan

November 06, 2008

MATEMATIKA GAJI VS SEDEKAH

Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik denga falsafah hidupnya, yang menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar. Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang diprogram sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam negeri. Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan daripelatihan itu. Melainkan dari pria ini.

Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena penampilannya rapih, menarik, dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun.

Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib "guru" yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi.

Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi: Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.

"Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis."

"Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?"

"Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapa pun sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang."

"Kenyataannya memang begitu kan, Mas?" kata saya mengiayakan. "Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi." Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.

"Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke, sekarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?"

"Tidak ada. Habis," jawab saya spontan.

"Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga." Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?

"Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah diberikan pada pengemis," saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.

"Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran do'a keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC."

Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat.

Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi.

Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orangtua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapa pun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orangtua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya, dan sejagat haru biru perasaannya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat.

"Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai matematis dengan dimensi sedekah itu?"

"Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qana'ah, ridha, dan syukur".

Saya semakin tertegun. Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama diabaikan.

Ya Allah, saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan AllahMahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2] :261). [Abdallah, Klab Santri Peduli]

Selengkapnya...

Mei 25, 2008

Manusia dan Hijrah

Ada yang menyebutkan second born is in fourty. Usia 40 dianggap merupakan saat kelahiran kedua. Kalangan ahli tasawuf menyebutnya sebagai usia di persimpangan. Usia yang memaksa pemiliknya menentukan pilihan; menjadi kaum muttaqin, menjadi kaum kafir, atau kaum munafik? Pilihannya cuma tiga, tapi memilihnya susah.

Menjadi kaum muttaqin atau orang-orang taqwa, maka ia harus sudah memperbaiki akhlak, menyempurnakan prilaku dan sikap, meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, memperbanyak zikir, menambah terus kebajikan-kebajikan, dan itu sama artinya, dengan menapaki maqom-maqom spiritual untuk mendekatiNya. Tujuannya, apalagi kalau bukan mempertajam kualitas dan kuantitas syariat, melakoni tarekat, melarutkan diri dalam hakekat, hingga mencapai ma’rifat.

Kalau menjadi kaum kafir, mudah saja, berbuat saja hal-hal yang dilarang dan tidak disukai oleh Allah. Langgar saja firman Allah dan hadits Rasulallah saw. Berpikirlah terus tentang duniawi. Sahlah kekafirannya.

Sedangkan menjadi kaum munafik, maka sama artinya dengan memasuki kehidupan dengan kepribadian-ganda. Senantiasa berupaya menjalani kaum apa saja. Sah untuk berbuat apa saja. Halal melsayakan apa saja. Yang penting, tujuan pribadi tercapai. Sedikit basa-basi, berpura-pura menyukai orang lain, bersandiwara, akting, dan larut dalam kebohongan, jadi tampilan setiap waktu. Naudzubillah.

Sabda Baginda Rasulallah saw mungkin bisa bahan renungan, ”Tidak ada kebajikan yang lebih utama setelah iman selain mendatangkan manfaat bagi orang lain; dan tidak ada kejelekan yang lebih jahat setelah musyrik selain mendatangkan kesengsaraan pada orang lain.”

Pada kesempatan lain, Baginda Rasulallah saw juga mempertajam sabdanya tentang kaum munafik yang membantu berbuat zalim, “Barang siapa berjalan bersama orang zalim dan membantunya, padahal ia tahu orang itu zalim, ia telah keluar dari Islam.”

Hijrah artinya berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk tujuan tertentu. Bagi sejarah Islam, hijrah artinya kepindahan Rasulallah saw dan pengikutnya dari Mekah ke Madinah, untuk menghindari pertikaian dengan kaum Quraish dan mengembangkan syiar Islam. Bahasa sederhananya, migrasi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Intinya, ada kata “pindah”.

Namun, makna “hijrah” bagi individu-individu yang tercerahkan benar-benar tidak dalam konteks dhahir atau fisik. Tapi, di dalam dirinya sendiri. Hijrah hati dan jiwa, maksudnya. Kinilah, saatnya berpindah hati dari penikmatan masalah manusia ke masalah Tuhan. Kinilah, saatnya berpindah jiwa dari dominasi ruh manusia (nasut) menjadi ruh Ilahiyah (lasut). Intinya, hati dan jiwa yang berhijrah. Fisik dan jasad tetap di tempatnya.

Kalau dalam konteks Tasawuf Sunda, hijrah itu memulai langkah baru untuk nyandung. Dalam konteks Budaya Sunda, kata tersebut memang berkonotasi negatif, yakni poligami. Beristri lebih dari satu – seperti disampaikan dalam surat An-Nisa ayat 3.

“Dan, jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat.” (QS An Nisa: 3) Namun, makna “nyandung” yang dimaksud dalam konteks Tasawuf Sunda, justru sama sekali tidak berhubungan dengan perkawinan. Apalagi, untuk beristri lebih dari satu atau poligami. Tapi, kita justru dituntut untuk menambah tingkatan keimanan. Bila semula tingkatan keimanan dan ibadah berada berada dalam wilayah syariat, maka kini harus segera bergeser ke wilayah tarekat. Setelah itu, memasuki wilayah hakekat. Puncaknya, menggapai wilayah ma’rifat untuk menjadi insan kamil. Manusia yang sempurna. Maka, “istri” kedua, ketiga, dan keempat itu adalah tarekat, hakekat, dan ma’rifat!

Wujud hijrahnya sendiri adalah pelaksanaan Rukun Islam secara hakekat – martabat ketiga setelah syariat dan tarekat. Tingkatan ini berada dalam tahapan tahali. Sedangkan pencapaiannya adalah maqom fana (peleburan diri pribadi ke dalam Diri Pribadi). Pada bagian ini, pelaksanaan Rukun Islam sudah melebihi apa-apa yang dilakukan di martabat sebelumnya. Ya, secara syariat dan tarekat secara total.

Fokus pelaksaanaan ibadah pada tingkatan tersebut adalah rasa – pengertian awam adalah “perasaan” (sesuatu yang abstrak, bisa kita ungkap tapi tidak bisa ditunjukkan). Namun, dalam kajian Ilmu Tasawuf, rasa sama dengan jiwa (nafs). Yakni, upaya sang Salik untuk memberdayakan jiwanya, agar selalu tertuju kepada Yang Mahakuat. Maka, “JIWA” kita sendirilah yang menjadi kiblat seluruh peribadatan kita.

Karenanya, rasa atau jiwa harus selalu memelihara sabar, syukur, ikhlas, ridha, dan tawakal. Diri pribadi ini jangan lagi memperbanyak keinginan, mengingat apa yang pernah diperbuat, dan tidak menyakiti makhluk lain (karena mereka pun merupakan pengejewatahan dari Yang Mahapencipta), serta tidak lagi mengikuti bisikan-bisikan yang mengarah pada persoalan duniawi.

Tiba-tiba saya teringat akan buku-buku tentang Syekh Siti Jenar atau Hussein Al-Hallaj. Keduanya diakui sebagai orang-orang suci, orang-orang yang larut akan cinta-kasihNya. Namun, keduanya justru berdoa, agar hidupnya dinistakan dan dicampakkan. Sehingga, mereka berharap bisa menjauhi kehidupan duniawi dan kemashuran sesaat.

Doa itu memang tercapai. Di akhir hidupnya, mereka mendapatkan dambaan tentang penistaan dan pencapakkan itu. Semuanya itu adalah kuasaNya. Malah, mereka mangkat seakan bukan sebagai orang-orang terhormat, wali atau sang pelindung, atau kekasih Allah. Tapi, sebatas sebagai manusia biasa yang hina-dina. Subhanallah.

Tapi, mereka menjalaninya dengan kesabaran, keikhlasan, keridhaan, kezuhudan, ketawakalan, ketasliman, kefanaan, dan kemahabbahan, yang teramat-sangat. Mereka memang larut dalam suasana penyerahan diri total, hidup apa-adanya, dan atmofir mabuk cinta terhadap Allah swt secara dasyat.

Kembali fokus pada masalah hakekat. Maka, imbas yang harus dimunculkan, tentu saja, tidak ada lagi keresahan, kegamangan, kegalauan, kekecewaan, sakit hati, iri, dengki, pesimis, apatis, mudah berburuk-sangka, apalagi putus asa. Sebaliknya, tetap berakhlak mulia, semangat, optimis, berbaik-sangka pada siapa pun, dan menikmati hidup dengan suka cita.

Kebangkitan itu sendiri tidak identik dengan pelarian atas kepungan masalah atau kemadekan karier. Tapi, “pribadi nan tercerahkan” adalah pilihan lain dari hidup ini. Siapa pun boleh hidup dengan pilihan apanya masing-masing. Entah terus menjunjungi semangat mimpi, keinginan, cita-cita, dan ambisi, untuk meraih kebahagiaan duniawi. Atau, mencoba meraih target kebahagiaan di alam lain. Terserah saja.

Dan, sosok individu-individu yang tercerahkan menyadari dan meyakini betul dengan buah yang bakal dipanennya di masa mendatang. Karena, mereka memang bakal meraih kemuliaan lain setelah menuntaskan perjalanan tahapan tahalinya. Puncak seluruh perjalanan itu adalah tahapan tajjali untuk menikmati maqom mahabbah (cinta). Dengan muslim yang telah menjadi mukmin, dan dengan mukmim yang telah berganti jubah sebagai sang Salik, maka hanya waktu saja yang akan membimbingnya untuk mendapati hakekat stasiun spiritual tersebut, mahabah. Cinta nan tak terbatas kepada Yang Mahamencintai. Persisnya, setelah ia bisa setiap saat berma’rifat atau menyaksikan secara langsung adaNya dan rasulNya.

Inilah hakekat syahadat yang sebenarnya. Kesaksikan yang memang nyata menyaksikan. Bukan sekedar mengucapkan hafalan. Utamanya, ia telah memiliki kunci untuk membuka pintu berma’rifat. Yakni, pintu untuk menggapai Nur Muhammad dan Johar Awal.

Nur Muhammad adalah simbolisasi cahaya-cahaya yang membentuk manusia, yang juga menjadi arah untuk mendapati simbol Cahaya di atas Cahaya. Para pengikut kelompok tarekat meyakini, momen tersebut merupakan perlambang pencapaian perjalanan spiritualnya, sekaligus membuktikan Dia Yang Mahamengawasi selalu mengawasi kita. Subhanallah.

Bagaimana dengan pelaksanaan Rukun Islam di tahapan ini? Sejatinya, tahapan ini adalah buah dari perjalanan panjang nan melelahkan itu. Sehingga bisa dikatakan, dengan mengamalkan Rukun Islam secara syariat, tarekat, dan hakekat, maka kita pun bisa meraih ma’rifat. Sekaligus merasakan harumnya maqom mahabah. Dan, menempatkan diri pribadi pada singgasana tajjali. Subhanallah.

Inilah buah hijrah yang didapat secara sabar, maqom per maqom, tahapan per tahapan, dengan pelaksanaan Rukun Islam yang secara syariat dan tarekat, bahkan hakekat. Serta, tentu saja, istiqomah untuk terus-menerus melaksanakannya. Takhali menghadirkan wara dan zuhud. Tahali menghadirkan taslim dan fana. Dan, tajjali menghadirkan mahabbah. Ah, indahnya perjalanan hijrah itu. Bercengkerama dalam suasana cinta dengan Allah semata, Dzat Yang Mahasempurna.[]
Selengkapnya...

Manusia dan Bersikap

Di tempat saat ini kita berdiri dan mengais nafkah, adakah pemimpin nan kharismatik laksana para Sultan Butuni? Atau, paling tidak ia memiliki pola leadership laksana punggawa perahu sandeq? Bila tidak, lalu bagaimana kita menyikapinya?

Ingat pemimpin yang bisa mengemban amanah, jadi teringat pula soal nasib seorang staf pelaksana atau office boy di topik terdahulu. Ia dikalahkan oleh taman-temannya yang bisa mencuri hati sang atasan. Ia gagal berkompetisi karena teman-temannya ikhlas menjadi safety player. Bahkan, menjadi kaum munafik.

Dan banyak contoh kasus yang bisa menjadi pembuktian, kaum munafik ternyata bisa lebih berhasil di segala bidang. Apa pun bentuk pekerjaan dan posisinya. Pertanyaan konyol sang office boy, “Kenapa kaum muttaqin – orang-orang yang taqwa – harus kalah melawan kaum munafik di setiap persaingan? Apakah Allah tidak adil? Atau, adakah alasan paling sempurna di balik kasus-kasus seperti itu?”

Jawabannya yang paling sederhana dan gampangan, karena mereka tidak memiliki tuntutan untuk melewati menempuh jalan spiritual. Mereka tidak perlu berpikir bersabar, bersyukur, bertawakal, berzuhud, apalagi berserah diri. Mereka boleh menghalalkan segala cara. Karena, tujuannya beda. Arah pencapaiannya beda. Mereka memusatkan perhatiannya hanya pada masalah duniawi. Sedangkan kita? Tentu saja, harus memikirkan pula arah yang lain. Jalan untuk istiqomah. Yakni, langkah menuju jalan lurus menujuNya.

Jangan berpikir atau merasa kalah. Karena, sesungguhnya kita tidak sedang bertarung atau berkompetisi. Tapi, kita berada di satu tempat dengan tujuan yang berbeda. Situasilah yang memaksa kita untuk berkompetisi atau bersaing. Karena itu, kita tidak mungkin memaksakan tujuan kita pada orang lain. Sebaliknya, orang lain pun tidak mungkin memaksakan tujuannya pada kita.

Dan, karena perbedaan yang teramat hakiki itulah, atasan bisa merasa tidak sejalan dengan kita. Sebenarnya bukan ancaman. Bisa jadi, hanya karena atasan memilih situasi nyaman untuk menjalin kerjasama dan mencapai target perusahaan. Karena itu, pilihan itu pun harus dijatuhkan pada orang-orang yang dianggapnya sealiran atau segolongan. Kalau sampai ada orang yang tidak berprinsif – awalnya mungkin berbeda tapi tiba-tiba menjadi penurut atau menjadi kaumnya – itu adalah haknya. Persisnya, sosok safety player. Namun, sekali lagi, itu adalah haknya!

Banyak cara untuk berhasil. Dan, bisa jadi, banyak orang yang berpikir menjadi safety player merupakan kunci terampuh untuk berhasil. Meskipun dengan resiko, ia harus disebut latah, pecundang yang cari aman, bahkan cheer leader sang atasan.

Tentu kita juga masih ingat, bagaimana dengan kelanjutan cerita sang office boy yang pernah kalah (bahkan sekarang pun masih tergolong orang kalah), ketika ia didepak dari kantor lamanya. Lalu, ia beralih profesi menjadi tenaga honorer dengan pangkat terendah. Sehingga, ia harus membuang jauh-jauh gengsi dan kebanggaan masa lalu. Sebaliknya, ia pasrahkan hati, untuk ikhlas menerima “pakaian” barunya.

Di sisi lain, perjalanan spiritualnya untuk mendapatkan kemuliaan dari Yang Mahamulia, justru kian gencar. Shalat fardhu dan sunnah dilaksanakan dengan penuh khusu dan tepat waktu. Baginya, waktu shalat bukan lagi lima, tapi ditambah dengan shalat dhuha dan shalat malam. Semuanya seakan jadi kewajiban yang harus dilakukannya setiap hari.

Puasa Senin-Kamis atau puasa Nabi Allah Daud as juga tak luput dari rutinitas ibadahnya. Bahkan, dengan income yang alakadarnya, justru tidak menyurutkannya tekadnya untuk berzakat dan bersedekah kepada siapa pun. Zikirnya pun jangan ditanya. Istighfar, salawat, dan tahlil, adalah rangkaian wirid yang tak pernah lepas mulutnya. Namun, siapa nyana, dengan ketangguhannya beristiqomah, justru membuatnya terpeleset juga ketika tiupan setan Idazil menembus telinganya hingga sampai ke hati.

Kesimpulannya, bila shalat dan zikir kita masih juga membuat kita marah dan kecewa, lantaran tidak sejalan dengan apa-apa yang didapat secara materi, jangan-jangan karena kita melakukannya bukan atas ridha Allah? Tapi, malah berpamrih, supaya Allah secepatnya memberikan pangkat, jabatan, posisi, gaji yang tinggi, dan fasilitas kantor. Subhanallah!

Ridha Allah telah memberikan hasil yang tidak kecil. Karena, Allah tetap menjanjikan, untuk menggunakan kuasaNya untuk bertindak sebagai Penolong dan Pelindung kita di setiap kesempatan. Sehingga, aliran nikmat dan karunia akan senantiasa dicurahkan untuk kita. Sehingga juga, hembusan azab dan bencanaNya tidak akan menyinggahi kita. Karena itu, bersyukur atas ridha memang sebuah keharusan, bila kita berharap memperoleh karuniaNya yang teramat besar.

Karena itu, kalau shalat kita, zikir kita, dan seluruh pekerjaan dilakukan atas ridha Allah, maka kita tidak perlu mengeluh kepada Allah. Kita tidak perlu bertanya sinis soal nasib kita. Ikhlas saja. Ikhlas dan ridha menerima semuanya.

Kesediaan menerima apa pun dari Gusti Allah. Karena tanpa dibilang atau dimunajatkan, sesungguhnya Allah telah mengetahuinya. Maka, sia-sia juga memprotes dan berteriak lantang soal nasib dan masa depan, bila Allah memang belum menghendaki perubahan.

Seiring dengan itu, ketika kita sadar akan tujuan hidup kita yang berbeda dengan atasan atau teman-teman sejalan, maka kita pun harus sadar akan resiko-resikonya. Termasuk, tersendat-sendatnya karier atau kenaikan gaji. Pokoknya, masalah duniawi.

Masalahnya, apakah karena masalah-masalah itu kita harus mengorbankan keinginan kita untuk dekat denganNya? Haruskah kita juga larut dalam dunia kompetisi yang tidak sehat, menghalalkan segala cara, malas mengantri, terlibat dalam intrik-intrik, dan sebagainya, sehingga kesucian hati kita ternodai?

Subhanallah, perlu kerja keras dan kesabaran tinggi, agar hijab-hijab atau selubung hati kita terbuka, dan bisa memandang cahaya Allah. Sehingga sangat disayangkan, bila tekad untuk menjadi “orang yang berubah dan tercerahkan”, dengan terus menyucikan hati secara total dan beribadah dan berzikir secara kaffah, rusak karena belaian hawa nafsu duniawi.

Masalahnya, bagaimanakah sebaiknya menghadapi atasan atau teman-teman yang tidak sejalan dengan kita?

Bila pada bab terdahulu, kita dihadapkan pertanyaan tentang cara masuk atau membaur dengan atasan atau teman-teman yang tidak sejalan, maka kali ini arah pertanyaan lebih menajam. Bila di bab terdahulu arahnya, kita mengalah dan mencoba ikut dalam kaumnya. Maka, pada bab ini, kita istiqomah dengan pilihan kita dan mencoba bijak untuk menghadapi mereka.

Sang office boy tergolong sosok yang bisa menyembunyikan sikap yang sebenarnya, ketika ia berhadapan dengan atasan atau teman-teman yang dianggapnya tidak sejalan. Meskipun jauh di dalam hatinya, ia terus menyimpannya sebagai “masalah” besar dan perlu jawaban tepat. Yang dikhawatirkannya hanya satu, penitian jalan batiniahnya tercoreng karena persoalan tersebut.

Jangan pernah berpikir kaum kafir atau kaum munafik sebagai musuh kita, lawan kita, atau kompetitor kita. Belajarlah kepada sikap Imam Ali bin Abi Thalib kw, ketika beliau dihadapkan pada masalah yang sama. Jawab beliau, “Itulah saudara-saudara kita yang berbeda paham dengan kita.”

Sekedar berbeda paham.

Sederhana alasannya.

Sehingga, kita tidak perlu berpikir terlalu jauh, untuk menuduhnya sebagai kompetitor, pesaing, atau musuh. Bahkan, jangan lagi menyebutnya sebagai kaum kafir atau munafik. Biarlah hanya Allah Swt yang mengatur sebutan atau julukan-julukan buat mereka. Namun, sebagai manusia yang paham akan adab dan etika pergaulan, kita harus menjalankan hukum pergaulan yang lebih sehat dan berakhlak mulia. Bersikap seperti biasa dan memandang atasan dan kaumnya sebagai saudara-saudara kita juga.

Dalam bahasa politik, “tidak ada pertemanan yang abadi”.

Karena itu, berhati-hatilah dalam melangkah dan berhati-hatilah saat bersikap terhadap orang lain. Sekarang teman atau sahabat, esok belum tentu. Sekarang musuh atau lawan, esok juga belum tentu. Waktu sering mengarahkan pada perubahan-perubahan. Bahkan, Rasulallah saw sudah memprediksi dan mewarningnya jauh-jauh hari, untuk selalu bijak dalam membuat keputusan. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk menyelamatkan umatnya dari keterasingan dan kesalahan dalam bergaul.

Kesalahan yang masih membekas di hati, dengan sempat mengungkapkan kekecewaan dan menihilkan keridhaanNya, membuat Barkah terus merenungi langkah-langkahnya di depan. Menerima dengan lapang keputusan atau persoalan apa pun, karena merupakan kebijaksanaanNya semata. Usaha boleh sekuat tenaga. Berikhtiar boleh sebisa-bisanya. Namun bicara hasil atau buah yang bakal dipetik, kembali tergantung keputusanNya. Saatnya, untuk terus bertawakal.

Jangan terlalu larut dengan masalah-masalah duniawi. Jangan berpikir terlalu berlebihan tentang jabatan, kedudukan, posisi, gaji, atau fasilitas. Jangan terlalu berburuk-sangka juga pada atasan atau teman-teman kerja. Tapi, pikiran dan hati terus diarahkan kepadaNya secara total. Saatnyalah merubah akhlak, agar bisa menampilkan citra diri yang bisa menjadi teladan bagi orang lain.

Cobalah bertanya kepada diri kita sendiri dan menjawabnya secara jujur.

Apa yang sebenarnya sedang kita cari?

Kalau arah pertanyaan tersebut tentang jabatan, kedudukan, posisi, atau keinginan mendapatkan fasilitas duniawi, maka alangkah hinanya diri ini. Karena, itu sama artinya dengan memberhalakan dan memuliakan masalah-masalah duniawi. Jabatan atau posisi memang berdampak pada income atau gaji. Termasuk, fasilitas-fasilitas perusahaan. Selain itu, juga akan berdampak pada penghormatan atau aktualisasi diri di tengah masyarakat. Begitu menggiurkan, memang.

Siapa yang tidak ingin kaya? Siapa yang tidak ingin memiliki banyak harta-benda? Siapa yang tidak ingin dihargai? Siapa yang tidak ingin dimuliakan? Pasti semua orang, karyawan di kantor mana pun, memang berkeinginan dan berlomba-lomba memburunya. Tapi, apa hal-hal seperti itu yang menjadi tujuan hidup?

Padahal tanpa itu semua, Allah pun tetap memberikan tempat untuk orang-orang yang mau dekat denganNya. Orang-orang yang taqwa. Banyak contoh tentang orang-orang yang kaya-raya, memiliki jabatan dan posisi terhormat, dan dielu-elukan orang di mana pun, tapi hatinya merana. Hatinya tersiksa. Hatinya justru dipenjarakan oleh keduniawiannya sendiri.

Karena itu, pendapat untuk mengedepankan jabatan, posisi, fasilitas, harta, atau kehormatan, tanpa mengindahkan pemberian yang sesuai porsi dari Nya, jelas keliru. Karena, khawatir, jabatan, harta, dan kehormatan itulah, yang akan membawa kita lari dari Allah. Sungguh malu rasanya, ketika kita ditantang untuk menjawab pertanyaan tentang tujuan hidup, namun sesungguhnya kita termasuk orang yang mendewakan jabatan, harta, dan kehormatan. Naudzubillah.

Tidak cukupkah apa-apa yang telah kita dapat selama ini?

Bagaimana pula menjawab pertanyaan ini, bila kita tidak pernah merasa cukup dengan apa-apa yang kita dapat selama ini. Sungguh, kita termasuk orang yang tidak bisa berterima-kasih. Kita tergolong orang-orang yang tidak bisa bersyukur. Padahal, Allah telah melimpahkan segala-galanya untuk hidup kita. Cobalah menoleh sedikit saja ke samping kanan atau kiri. Bahkan, ke bawah. Perhatikanlah, adakah mereka yang hidup tidak seberuntung kita?

Jawabannya, pasti sangat banyak! Sangat banyak dibandingkan harga burger yang kita beli di foodcourt. Artinya, sesungguhnya kita sudah hidup berlebih. Lebih di atas rata-rata. Jadi, saatnyalah bersyukur dan berterima-kasih.

Tidakkah kita inginkan kemuliaan di alam baqa?

Inilah pertanyaan terberat, yang sulit untuk dijawab.

Ingat kembali cerita raja mukmin dan raja kafir. Ya, meraih kemuliaan seperti sang raja mukmin. Hidup secara sederhana dan apa adanya, serta berbuat banyak kebajikan untuk memanjakanNya, namun memperoleh tempat terhormat di alam abadi nanti. Artinya, keinginan untuk mengiyakan pertanyaan ini sama artinya, dengan terus mengakui adaNya dan kuasaNya. Yakinlah, Allah itu ada dan mengawasi setiap gerak kita. Allah juga begitu berkuasa untuk mengatur segalanya. Terutama, kehidupan makhluk-makhluk ciptaanNya. Karena itu, tidak alasan untuk lepas dari keyakinan tentang adaNya. Inilah pelajaran tauhid pertama yang perlu dirasakan kebenarannya.

Bila adaNya telah kita dapati, maka saatnyalah menjejaki keyakinan tentang kuasaNya. Sesungguhnya, perjalanan hidup manusia dan segala geraknya adalah atas kuasaNya. Perusahaan hanyalah syariat. Boss atau atasan pun syariat, untuk meyakini adaNya dan kuasaNya.

Karena itu, kita harus makin meyakini adaNya. Kita juga harus merasakan kuasaNya. Teruslah mendekatkan diri dengan shalat dan zikir agar adaNya memang terasa. Sehingga, kita tak lagi ragu akan kebenaran dan keagungan kalimat sang kekasih Allah. Bila keraguan itu tak ada lagi, bila keyakinan itu makin menebal, saatnya jugalah kita menikmati kuasaNya. Bukan lagi sebatas obyek, yang terus disuapi nikmat dan hidayahNya. Tapi, jadilah kepanjangan tanganNya. Dengan berbuat kebajikan di segala kehidupan.

Istighfar dan teruslah istighfar. Bertanya lagi pada diri kita tentang tujuan hidup. Akankah jabatan, posisi, dan fasilitas perusahaan, menjadi sasaran kita? Sungguh sayang seribu sayang, bila pada akhirnya akar masalah dan jawabannya hanyalah soal materi. Ya, persoalan duniawi.

Saatnyalah meyakini prinsif kita sendiri. Jangan takut dimusuhi atau tidak memiliki teman. Tentukan posisi, di mana kita akan berdiri? Kita akan menjadi kaum apa? Tentukan pilihan dan rasakan resikonya. Karena, kita kan sadar, setiap keputusan akan berbuah resiko. Saatnyalah membela kata hati kita sendiri, yang sudah kita yakini kebenarannya di lihat dari sudut mana pun.

Dengan begitu, barulah kita bisa berani memutuskan diri, untuk beristiqomah. Memulai hidup baru dengan konsep yang tercerahkan, dengan akhlak yang lebih mulia, dan dengan optimisme yang lebih besar. Tidak lagi memelihara penyakit hati. Tidak ada lagi orang-orang yang musuh atau pesaing. Tidak ada lagi orang-orang yang kita sebut kafir atau munafik.

Tidak mudah mendapati pemimpin laksana Sultan Butuni. Atau sedikitnya, seperti punggawa perahu sandeq. Mereka lahir dan berkembang di taman surga, yang memungkinkan individu-individunya memiliki pribadi-pribadi yang senantiasa bersabar, bersyukur, bertawakal, berzuhud, dan berserah diri. Tapi sebagai insan yang bertekad memuliakan diri ini dan sekeliling kita, maka sudah sepantasnya, perangkat pribadi-pribadi seperti sang Sultan Butuni itu melekat juga di bangunan hati kita.

Sehingga, kalaupun kita belum memiliki kesempatan menjadi pemimpin, tapi kita telah bersiap-siap dengan bekal yang memadai. Kita bisa terlihat sebagai pemimpin, meskipun saat itu posisi kita bukan sebagai pemimpin. Itulah pribadi-pribadi yang kharismatik dan berwibawa. Dengan kenyataan itu, paling tidak kita bisa lebih siap berhadapan dengan siapa pun. Temasuk, atasan kita. Tanpa merasa kecil, rendah, atau tidak berguna.

Tapi, dengan bekal kemampuan dan semangat, serta personal power yang melimpah, sudah pasti, kita hanya tengah berhitung-hitungan dengan waktu. Sejatinya, dengan kemampuan dan semangat itu sendiri, maka kita telah memperlihatkan secara nyata elemen kepatuhan kita terhadap profesi dan perusahaan (jadi bukan dengan atasan semata). Dan, itu jauh lebih mulia, dibandingkan hanya menyajikan semangat dan kepatuhan. Ada pun masalah keberuntungan, kembali berpulang kepada Yang Mahaberkehendak.

Sebagai manusia, kita hanya wajib bersyariat. Sedangkan masalah hakekat, sepenuhnya menjadi hak Allah. Keseimbangan memaknai kewajiban dan hak itulah yang menunjukkan kemuliaan kita yang sesungguhnya. Semoga saja sebagai manusia yang sempurna atau insan kamil. []

Selengkapnya...

Manusia dan Kepemimpinan

Ketika berbicara tentang situasi sosial di sebuah perusahaan atau kantor, maka fokus masalahnya akan lebih mengarah pada interaksi antara atasan dan bawahan. Atasan atau boss adalah pembuat dan pengatur kebijakan, untuk mencapai target perusahaan. Sedangkan bawahan adalah pelaksana atas kebijakan-kebijakan itu sendiri.

Bila bawahan dituntut untuk memiliki kemampuan, semangat, kepatuhan, dan loyalitas, bagaimana dengan atasan? Jawabannya, sama. Karena, atasan juga memiliki atasan. Pucuk kepemimpinan tertinggi digenggam oleh pemilik perusahaan. Akibat adanya hirarki hubungan-hubungan itu, dengan sendiri, setiap atasan mesti “berjuang” untuk mendapat nilai lebih di mata atasannya. Sehingga, jurus akrobatik memainkan elemen-elemen; kemampuan, semangat, kepatuhan, dan keberuntungan, juga terjadi. Efek selanjutnya dari permainan tersebut, sudah bisa ditebak, bawahanlah yang harus menerima segala resiko.

Bila berhasil, kerap sang atasan akan menyebutnya sebagai buah kerja kerasnya dan berharap mendapat penghargaan atau apresiasi. Sebaliknya, jika gagal, maka kerap bawahan pula yang dikorbankan dengan banyak alasan. Kenyataan seperti itulah yang membuat persoalan-persoalan tidak sehat bermunculan. Banyak orang lebih suka berburuk-sangka (su’udzon) kepada atasannya dan teman-teman kerjanya. Hakekat team work sekedar basa-basi. Karena, pada kenyataannya, ada orang-orang yang tidak sabar dalam antrian dan menghalalkan segala cara, untuk memenangkan kepentingannya.

Apakah ini kaitannya dengan kualitas kepemimpinan? Atau, karena agama senantiasa dianggap tidak memiliki makna apa-apa di lingkungan kerja?

Kepemimpinan merupakan bakat, seni, dan kemampuan, yang sering dibilang tidak ada sekolahnya. Wawasan dan pengalaman kerap menjadi pijakan. Tapi, agama atau adat-istiadat juga bisa memberikan pengaruh,” papar seorang Dosen Ilmu Manajemen saat kuliah dulu.

Bulan ini, ada enam atau tujuh orang yang resign di kantor saya. Katanya, mereka nggak cocok dengan mbak Mia, redaktur pelaksana saya,” cerita seorang wartawan di sebuah majalan wanita ternama. Namanya, Tia. Ia juga menambahkan bahwa sejak bidang redaksinya dipimpin oleh “orang dekat” pemimpin redaksi, sudah 10 orang mengundurkan diri dalam tempo tiga bulan. Dengan tambahan enam atau tujuh orang yang bakal mundur, berarti dalam kurun empat bulan, sudah ada 16 atau 17 orang meninggalkan majalah tersebut. Termasuk angka yang fantastis untuk sebuah lembaga pers.

Apakah hal itu bisa dijadikan alasan bahwa ia tidak kapabel, tidak becus, tidak memiliki jiwa kepemimpinan, sehingga perahu kami oleng?” Tanya Tia dengan gusarnya. Pasalnya, banyak teman-teman dekatnya yang ikut mundur. Sehingga, ia pun merasa kehilangan.

Tia juga menuturkan latar belakang redaktur pelaksananya, yang ternyata merupakan yuniornya. Sehingga, bila ada uji kompetensi, bisa dipastikan, bossnya Tia akan terpental. Karena, kemampuannya memang belum seberapa dan masih kalau jauh dibandingkan Tia. Kelebihannya adalah pada semangat, kepatuhan, dan loyalitas. Selain itu, ia juga pintar mempresentasikan diri. Terlebih lagi, ketika ia berada di ruang rapat. Kesannya, ia perempuan yang cemerlang, cerdas, dan berprospek. Tidak heran, ia bisa gampang mendapat nilai tinggi. Meskipun tidak bisa dipungkiri, faktor keberuntungan atau lucky juga ikut andil dalam perjalanan karier Mia.

Bila dalam struktur perusahaan non media, redaktur pelaksana setara dengan manejer senior yang membawahi para redaktur dan reporter. Posisinya merupakan vital. Karena, ia merupakan penghubung antara redaktur dan reporter ke pemimpin-pemimpin di atasnya. Termasuk, pemimpin redaksi.

Walhasil, banyak perubahan besar setelah ia naik pangkat. Teman-teman sekaumnya pun mendapatkan durian runtuh. Sehingga, antrian pun menjadi kacau-balau. Sistem pengembangan sumber daya manusia porak-poranda. Dan, kualitas kerja pun menurun drastis. Sayang, memang.

Profil atasannya Tia adalah gambaran pemimpinan berusia muda pada umumnya. Enerjik, terlalu bersemangat, mengabaikan rambu-rambu, haus pujian, ingin terus dibanggakan, dan mudah panik. Barangkali, ia sedang mencapai puncak kesombongan, puncak kebanggaan diri yang teramat sangat. Narsis. Atau, gede rasa. Sehingga, kini ia seakan berada di atas menara gading, yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun. Jangankan untuk memberi masukan, memberi pujian pun sulit. Terlalu jauh jaraknya.

Padahal, dengan kasat mata, semua bawahannya tahu dan paham sekali segala kekurangannya. Karena dukungan para cheer leadernya, ia menjadi semakin adigung. Gambaran kawula yang memuja-muja gustinya laksana Tuhan. Sehingga, orang-orang semacam Tia pun bukan hanya harus menelan kejengkelan. Tapi, harus menelan ludah dengan segala kegundahan. Bahkan, ia pun harus bertanya-tanya; bagaimanakah gambaran pemimpin yang ideal itu?

Buat kita, jawaban atas pertanyaan seperti itu, mudah saja. Karena bila berbicara tentang kepemimpinan, maka acuannya sudah jelas, yakni tauladan yang diberikan oleh Baginda Rasulallah Muhammad saw. Ia adalah kekasih Allah, manusia tersempurna, manusia yang senantiasa dilindungi akhlak dan kemuliaannya (mahsum) dan tidak bandingannya di jagat ini. Karena itu, jiwa kepemimpinannya pun perlu ditiru. Adil, bijaksana, egaliter. Dan butuh halaman panjang untuk menguraikan semua kelebihannya.

Sedikit catatan penting yang bisa diteladani oleh kita adalah sikap ladang dada dan kendali emosi. Beliau senantiasa menerima pujian, kritik, celaan, bahkan hinaan, dengan senyum. Legowo dan tidak menyimpan dendam. Dan, tidak sekali pun memperlihatkan reaksi berlebihan atas serangan atau teror musuh-musuhnya.

Coba juga resapi pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauzy bahwa ketika seorang hamba mengikuti seorang laki-laki, maka lihatlah apakah dia termasuk ahli zikir atau termasuk golongan lalai, dan apakah hakimnya hawa nafsu atau wahyu? Jika hakimnya adalah hawa nafsu, maka perintahnya harus diabaikan.

Pendapat tersebut memberikan gambaran soal sosok pemimpin. Pertama, dia laki-laki. Contoh-contoh kepemimpinan dalam khazanah Islam memang senantiasa menempatkan kaum Adam sebagai orang nomor satu. Tidak ada pernyataan atau dalil, yang menampilkan perempuan sebagai pucuk pimpinan.

Kedua, kualitas dan kuantitas ibadah dan penyerahan diri kepadaNya. Masalah zikir yang dipersoalkan merupakan bukti, Islam menekankan kepada setiap pemimpinnya untuk rajin berzikir dan senantiasa berserah diri. Maknanya adalah orang-orang yang tidak terlalu mempedulikan masalah duniawi. Istiqomah sebagai zahid – orang yang disiplin menjaga jarak dengan persoalan duniawi dan pemenuhan hawa nafsu. Jiwa-raganya hanya untuk Allah swt.

Ketiga, tentang hakimnya yang harus wahyu, tentu saja, berkaitan dengan kualitas dan kuantitas ibadah atau zikirnya tadi. Islam berharap mendapat pimpinan yang sudah matang secara spiritual, senantiasa meminta petunjuk dari Allah swt, dan tidak dikendalikan oleh hawa nafsu atau thogut.

Meskipun demikian, harus diakui, menghubungkan situasi di kantornya Tia dengan kacamata agama, sebenarnya tidak terlalu tepat. Sandaran agama lebih tepat digunakan pada organisasi atau lembaga yang tradisi agamanya memang sangat kuat. Contoh kasusnya adalah Kesultanan Demak Bintoro, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten, Kesultanan Palembang Darussalam, atau Kesultanan Butuni.

Konyolnya, di antara orang-orang semacam Tia kerap muncul pertanyaan aneh, mengapa Allah juga seakan membela keberadaan atasan atau pemimpin yang tidak kapabel seperti atasannya Tia itu? Sehingga, ia bisa langgeng dan terus saja memperlihatkan ketidakmampuan?

Masih ingat tentang cerita raja mukmin dan raja kafir? Allah mengatur agar raja mukmin terus mendapat kesusahan, karena Allah berkehendak agar ia mendapat nilai bagus yang sempurna dan kemuliaan di akhirat. Sebaliknya dengan raja kafir. Allah memberikan terus kemudahan kepadanya, karena Allah berkehendak agar ia mendapat nilai buruk yang sempurna dan kesengsaraan di akhirat.

Allah mengatur sedemikian rupa, dengan memainkan kekuasaanNya yang tanpa batas. Allah tunda kemudahan, karena akan memberikannya di kesempatan lain. Sebaliknya, Allah bisa berikan kemudahan, tapi akan membalaskan kesulitan di kesempatan lain. Semua itu adalah misteri Allah. Tapi, kita harus meyakini adaNya dan kuasaNya. Allah memang Mahamengatur dan Mahamerencanakan.

Contoh paling ekstrim, belajar pada kisah Fir’aun; memiliki kemuliaan yang teramat-sangat, kaya-raya, berpikir sebagai Tuhan, tengah berada di puncak kemuliaan, puncak kesombongan, puncak riya, dan berbagai puncak kebanggan diri lainnya. Tapi ketika waktunya tiba, ia terjerumus dalam kematian yang buruk. Su’ul khotimah. Hanya demikian kejayaan sang raja agung, ketika Yang Maharaja memperlihatkan keperkasaanNya.

Kembali mengingat dan meyakini adaNya dan kuasaNya. Tapaki terus tahapan-tahapan spiritual yang bisa membuat pikiran dan hati kita terjaga. Bersabar, bersyukur, berpasrah diri atau bertawakal, mengatur jarak dengan masalah duniawi, dan berserah diri. Tanpa berpikir, untuk membalas atau meresponnya secara negatif. Tapi, peliharalah terus sifat berbaik-sangka. Husnuzon, maksudnya.

Kalau kita masih mempertanyakan kehendak Allah lantaran membela atasan yang lupa diri, artinya kita masih meragukan semua rencana dan aturan-aturanNya. Kita justru terpancing, untuk malas mengikuti antrian, malas bekerja keras, menghalalkan segala cara, membabi-buta mencapai keinginan, akhirnya, tanpa sadar kita telah berburuk-sangka juga kepada Gusti Allah. Bersabar, bersabar, dan teruslah bersabar sampai kapan pun. Cuma itu jawaban terbaiknya, agar situasi tidak menjadi keruh. Buat sementara, lupakan teori-teori manajemen atau profesionalisme, karena dalam kondisi tertentu seakan tidak bermakna.

Sabar kan ada batasnya,” sergah Tia.

Kenyataanya, tidak. Kalau saja sabar batasnya, maka orang itu sudah sampai pada titik putus asa. Tidak percaya adaNya dan kuasaNya. Berhenti juga kesucian hati dan perjalanan spiritualnya. Ia menjadi seperti manusia kebanyakan lagi. Manusia awam. Awam segala-galanya. Yang hanya mengerti masalah duniawi, hawa nafsu, harta benda, lawan jenis, lupa ibadah, lupa zikir, lantaran larut dengan kesibukan memburu semua itu.

Ibarat permainan lego, bersabar adalah balok-balok pembentuk pondasi. Rangkaian balok terbawah. Ia dasar dan menjadi penopang bangunan di atasnya. Kalau bagian itu roboh, maka permainan usai. Dan, kita harus menyusunnya kembali dari dasar. Dari awal. Meskipun, saat itu kita telah membentuk dindingm atap, serta pintu dan jendela. Karena, mana ada bangunan yang tidak memiliki pondasi?

Banyak cara Allah swt untuk menguji ketabahan dan kemampuan bersabar umatNya; ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, dan sebagainya. Tapi, senantiasa ada janji kemuliaan di balik semua ujian itu. Bersabarlah untuk menanti kedatangan berita gembira itu. Maaf, berita gembira itu hanya dipersembahkan kepada orang-orang yang sabar. Begitu mulianya mukmin yang bersabar, sehingga Allah swt terus membelainya dengan ujian, cobaan, dan peringatan. Namun, Dia juga tetap menjanjikan kebaikan di belakangnya.

Sebaliknya, dengan Mia. Justru dengan kesempatan dan kemuliaan yang diperolehnya, ia malah lupa diri. Entah apa yang di dalam konsep manajemennya? Entah target apa yang dicapai dengan konsep itu? Sehingga harus dijawab dengan hengkangnya reporter-reporter handal di tempatnya. Bahkan, orang-orang yang masih bertahan pun sesungguhnya dibuat tidak nyaman. Mereka khawatir perahunya makin oleng dan karam laksana kapal Titanic.

Dan bila kita hubungkan dengan kepribadian punggawa perahu sandeq, maka makin terasalah jurang perbedaannya. Kita abaikan jenjang pendidikan atau status sosial. Tapi, kita fokus soal bangunan batiniah di dalam jiwa kedua pemimpin tersebut. Maka, akan jelaslah terlihat bahwa atasannya Tia memiliki latar belakang kejiwaan yang tidak jelas dan “bangunan” personal power yang juga kosong.

Dengan pondasi kejiawaan yang lebih banyak bertumpu pada elemen semangat, kepatuhan, dan keberuntungan, maka ia telah melupakan hakekat pekerja kreatif, yang mestinya memperlihatkan keterampilan. Dengan pengabaikan elemen terpenting itu, maka kita akan sulit mendapati bukti adanya pribadi-pribadi nan bersabar, bersyukur, bertawakal, berzuhud, apalagi berserah diri. Karena kemuliaan yang didapat secara keberuntungan itu membuatnya tidak pernah paham bahwa ada orang-orang di sekelilingnya yang mesti menggapai kemuliaan, dengan melewati tahap-tahap batiniah yang rumit.

Buah yang harus dipetik oleh Mia, tentu saja kemuliaan yang belum saatnya dipetik. Sehingga, ia pun terlihat laksana buah yang matang dikarbit. Terlihat ranum, namun rasanya tidak karuan. Secara lahiriah terlihat juga kekeringan dan kesulitannya mendapatkan simpati dari bawahannya.

Parahnya, kelemahan itu pun harus ditutupi proteksi defensif yang membuatnya makin jauh dari akar rumput. Beruntung masih ada orang-orang yang tidak bersabar dan berharap cepat-cepat mendapat perhatiannya. Dampak selanjutnya, keharmonisan organisasi pun makin terganggu. Di sisi lain, bawahan yang tidak berani “jual diri” menjadi batu sandungan tersendiri dan kerap dianggap akan merepotkan dirinya.

Lalu, bagaimana agar saya bisa diterima oleh atasan saya?” Tia masih penasaran.

Dari sisi profesionalisme, hitung-hitung kembali soal empat elemen “kedekatan”; kemampuan, semangat, kepatuhan, dan keberuntungan. Mungkin saja kita lebih mampu dibandingkan atasan atau teman kerja lain, mungkin kita lebih semangat dibandingkan teman-teman lain, tapi apakah kita bisa memperlihatkannya? Atau, sudah sesuai seperti yang diingankan oleh atasan? Belum tentu.

Kalau pun misalnya bisa, apakah mereka juga bisa ikhlas menerimanya? Kenapa harus ada kata ikhlas?

Perhatikan lagi elemen kepatuhan. Ingatlah, seseorang tidak akan dengan mudah yakin akan kepatuhan kita, bila ia merasa bahwa kita tidak pernah memilikinya. Perlu waktu lama, untuk meyakinkan hal itu kepada siapa pun. Terlebih lagi pada atasan. Atau, kalau pun sudah mencoba untuk memulainya, perhatikan juga teman-teman lain. Terlebih lagi, orang-orang yang selama ini dekat dengan sang atasan. Pastinya, kita kalah start dibandingkan teman-teman lain atau pendukung sang atasan dalam menumpuk nilai kepatuhan. Kita kalah bersaing.

Sehingga, kalaupun kita berusaha terus memperbaikinya, ya perlu waktu lama. Banyak faktor yang membuat seseorang atau atasan akan mengerti kemampuan kita, semangat kita, dan kepatuhan kita. Dan, sulit dijabarkan secara teori. Sangat sulit.

Larry King dan Bill Gilber dalam bukunya “Seni Berbicara kepada Siapa saja, Kapan saja, di Mana saja”, harus menyediakan bab tersendiri untuk mengajarkan cara berkomunikasi yang baik dengan seseorang. Terlebih, kepada atasan. Intinya, kita harus berbicara dengan kejujuran hati, menunjukkan minat terhadapnya, membuka diri, dan memperlihatkan sikap yang benar – membuat nyaman lawan bicara. Bila dirangkum dalam satu kata, empati namanya. Bisakah kita melakukan hal-hal seperti itu?

Kalau pun bisa, apakah atasan kita paham atau mengerti dengan usaha itu? Jangan-jangan ia memiliki teori atau dasar pemikiran lain tentang teknik berkomunikasinya. Sehingga, nggak nyambung juga jadinya. Ini boleh dibilang kemungkinan terburuk atau pahitnya. Tanpa bermaksud su’udzon.

Simak juga pendapat pakar psikologi David J. Lieberman dalam “Agar Siapa saja Mau Melakukan Apa saja untuk Anda”, yang menekankan makna keakraban, perlunya berkumpul bersama orang yang kita maksud, menunjukkan sikap suka dan perhatian terhadapnya, seraya menunjukkan itikad untuk membangun komunikasi yang baik – dengan memperlihatkan antusias, gairah, riang, aktif, dan membuatnya nyaman. Memperlihatkan sikap positif terhadapnya. Lagi-lagi, empati jawabannya.

Bisakah kita melakukakannya?

Kalau pun iya, lagi-lagi kita harus mengujinya, apakah ia mengerti dengan kerja keras atau pendekatan kita itu? Jangan-jangan ia memiliki pendapat lain soal psikologi menghadapi teman kerja atau bawahan. Ingatlah kita bawahan dan ia atasan. Ada jarak. Sehingga, khawatir tidak nyambung lagi. Mubazir jadinya.

Kenapa harus ada pertimbangan pesimis?

Karena, kita pun harus bijak membaca persoalan tersebut, dengan mempertimbangkan juga nuansa politik di dalamnya. Sehingga, hitungan pada aturan baku atau teori kerap bertolak belakang. Pahamilah kondisi politik atau pembiasan makna profesionalisme di setiap lingkungan kita. Selain itu, dari sisi kitanya, apakah bisa melakukannya? Kelihatannya mudah, tapi adakah keikhlasan untuk melakukannya? Belum tentu. Ingat uraian soal begitu beragamnya perbedaan antara kita dan dia.

Kita ambil contoh, misal, soal perbedaan usia. Cobalah rasakan, betapa hal itu membentangkan jarak yang teramat lebar. Terlebih lagi, bila usia atasan kita lebih muda dibandingkan kita. Sebenarnya, kita dalam posisi mengasuh. Tapi, mungkinkah kita mengasuh atasan? Jelas tidak mungkin!

Atau, kita berandai-andai, dengan mencoba memasuki ke dalam hidupnya lebih dalam. Taruhlah kita mencoba mengikuti hobbinya yang bermusik. Pertanyaannya, apakah kita memiliki selera musik dan lagu yang sama dengannya? Belum tentu. Apakah teknik bermusiknya sama terampilnya dengan kita? Belum tentu. Apakah mood bermusiknya juga sama dengan kita? Belum tentu.

Artinya, tetap saja ada perbedaan-perbedaan. Sehingga, agar bisa diterima, kita harus mengalah pada selera musik dan lagunya, tunduk pada teknik bermainnya, dan membuntuti moodnya. Rumit, kan?

Sekarang, hubungankan dengan dunia kerja kita. Secara kasat mata, kita bisa lihat perbedaan-perbedaan kita dan atasan secara kemampuan, semangat, kepatuhan, dan keberuntungan. Bisakah kita menyatukan atau membaurkan diri terhadap jutaan perbedaan-perbedaan itu? Lagi-lagi, harus super-ngalah dan benar-benar lapang dada. Butuh pengorbanan besar. Terlebih lagi, jika menghubungkannya dengan idealisme atau profesionalisme. Repot, jadinya.

Cara yang paling bijak, tetaplah berpikir untuk menunjukkan kemampuan semaksimal mungkin, menunjukkan semangat semaksimal mungkin, dan sedapat mungkin memperlihatkan juga kepatuhan itu – meski mungkin tidak menyamankan hati kita. Tapi, jangan pernah mempertanyakan atau mengeluhkan hasil dari semua usaha itu. Apa pun penilaiannya. Lapang dada saja. Menerima apa pun yang diputuskan oleh atasan. Karena, kini memang saatnya bertawakal.

Apa pun yang kita rancang, apa pun yang kita rencanakan, dan apa pun yang kita lakukan, semua atas ridha Allah. Karena itu, hasilnya pun terserah Allah. Karena, Allah memang telah merancang, merencanakan, dan mengatur segalanya buat kita. Saatnyalah bertawakal atas apa yang terjadi sekitar kita. Saatnya berpasrah diri atas karakter-karakter orang di sekeliling kita. Entah atasan, teman-teman setingkat, atau bawahan.

Orang-orang dulu tidak mengalami stress atau frustrasi atas segala yang didapatnya. Panen gagal, ya tersenyum. Kena musibah, masih bilang, untung blablabla… Mereka benar-benar lapang dada atas anugerah apa pun. Karena, semuanya disandarkan pada prinsif lillahi ta’ala.

Sementara dari sisi Mia (atasan Tia) juga menjadi bukti kerapuhan sebuah manejemen, yang bisa sesuka-sukanya memainkan pola kepemimpinannya. Padahal, sosok itu menjadi perwakilan sistem perusahaan. Sekaligus citra yang telah dibangun oleh para pendahulunya. Bayangkan, bagaimana kecewanya para perintis atau mungkin juga pemilik yang sekarang, bila mereka mengetahui kenyataan yang sesungguhnya terjadi di lingkungan kerja Tia? []

Selengkapnya...

Manusia dan Taslim

Ketika matahari siang menyengat ibukota, ratusan orang memadati jalan, dengan deru mesin dan nyaring klaksonnya. Padahal, kemacetan dan kepadatan lalu lintas memang tidak bisa dibendung.

Di atas trotoar, orang-orang tak kalah sibuknya. Satu sama lain saling berebut melewati. Entah karena sudah terlalu lapar atau karena bergegas ingin cepat-cepat kembali ke ruang kerja. Lelaki-perempuan, tua-muda, dengan berbagai profesi, terlihat dalam ekspresi yang sama. Kepanasan, kegerahan, keletihan, dan sulit tersenyum.

Jutaan orang lainnya, entah di Jakarta atau kota-kota lain, mungkin termasuk juga Anda, bisa jadi senantiasa berada dalam situasi seperti itu. Di hari-hari kerja, kita dikurung dalam sebuah rutinitas. Menekuni sebuah karier. Menapaki lahan nafkah. Tujuannya, bisa jadi, beragam. Ada yang sekedar memenuhi kebutuhan keluarga, meningkatkan kekayaan, mencari kebanggaan profesi, atau sekedar mengisi waktu luang(?)

Untuk menggapai tujuan-tujuan itu, kita diikat aturan dan kebijakan perusahaan yang ketat. Aturan manejemen di mana pun senantiasa menuntut seluruh karyawannya, untuk larut dengan kesibukan dan target-target perusahaan. Totalitas selama jam kerja memang menjadi keharusan. Saat itu, seluruh waktu, tenaga, dan pikiran, seakan milik perusahaan semata.

Buah dari lilitan rutinitas itu – di luar income setiap bulan – akan terasa, begitu mahalnya sang waktu. Kita akan sadar betapa waktu yang 24 jam begitu pendek dan sempit. Seakan kita berharap Allah Yang Mahamenghitung memberikan waktu yang lebih panjang setiap harinya. Sehingga kita bisa melakukan lebih banyak lagi kegiatan.

Bayangkan, pulang-pergi dari rumah ke kantor dan dari kantor ke rumah paling tidak habis dua jam. Itu pun kalau tidak macet. Total, dengan jam kerja yang delapan jam sehari, kita menghabiskan waktu untuk perusahaan sebanyak 10 jam,” keluh seorang karyawan perbankan.

Lantas?

Ya, buat keluarga dan kegiatan lain, paling banyak enam jam. Sisanya, ya tidur!”

Hitung-hitungan kasar tersebut seakan menjadi palu bahwa Allah sebenarnya senantiasa mengingatkan kita tentang masalah tersebut. Kita selalu ditegur soal pergerakan waktu. Persisnya, ketika waktu shalat tiba. Lalu, kita juga selalu diminta merasakan, betapa waktu bergulir begitu cepat. Manusia senantiasa diingatkan soal pentingnya memanfaatkan waktu. Terutama mengatur kualitas dan kuantitas pertemuan-pertemuan denganNya.

Kualitas dan kuantitas?

Kalau kita hitung kembali dengan lebih teliti, seperti hitungan tadi; 10 jam untuk perusahaan, enam jam untuk kegiatan lain, dan sisanya yang delapan jam untuk tidur. Artinya, bisa jadi, kita hanya memberikan waktu untuk ibadah hanya beberapa menit. Taruhlah kita shalat lima menit, berarti waktu untuk Tuhan cuma 25 menit! Itu pun kalau shalatnya tidak belang! Plus, tanpa menghitung kualitas kekhusuannya.

Tapi, sesuai amanah Allah kepada Kanjeng Nabi Muhammad, ya memang segitu. Shalat lima waktu dan masing-masing juga tidak membutuhkan banyak waktu,” sergah karyawan perbankan tersebut, “Shalat juga kan tidak dimaksudkan untuk memberatkan umat?”

Kalau hitungannya sekedar standar, kita bisa membenarkan pendapatnya. Tapi, bila hitungannya mengarah pada kualitas dan kuantitas? Cobalah hitung kembali perbandingan porsi waktunya, masak waktu yang diberikan untuk perusahaan bisa mencapai 10 jam, sedangkan untuk Tuhan justru hitungannya menit? Alangkah tidak sebandingnya?!

Dan, alangkah kelirunya bila pendapat itu disandarkan pada amanah “standar” Baginda Rasulallah Muhammad saw. Artinya, sekedar mengikuti praktek ibadah yang bersifat fardhu ‘ain, tanpa melihat bagaimana kualitas dan kuantitas ibadah Rasulalllah yang lainnya. Karena, terlalu kecil manusia mana pun – termasuk sahabat atau keluarga beliau – bila dibandingkan dengan takaran kualitas dan kuantitas ibadahnya Rasulallah. Terlalu kecil.

Baginda Rasulallah Muhammad saw melaksanakan shalat sunnah pun laksana shalat fardhu. Semuanya menjadi wajib dan dilakukan secara rutin. Tanpa kenal lelah atau bosan. Itu bila hitungannya pada ibadah yang bersifat fisik atau dhahir atau di wilayah syariat. Bagaimana di wilayah lainnya? Ah, beliau adalah manusia termulia, dan tiada bandingannya di muka Bumi ini.

Kita? Sudah pasti, tidak ada seujung kukunya!

Yang menjadi fokus persoalan; ketika Allah mencurahkan hidayahNya soal waktu, maka seyogyanyalah kita akan segera sadar soal putaran waktu yang begitu pendek. Kita memang bisa mengeluh, betapa pergeseran waktu dari pagi ke siang, dari siang ke sore, dari sore ke malam, hingga dari malam ke pagi, terasa begitu singkat. Kita juga akan paham, soal rentang antara waktu shalat yang satu ke shalat yang lain, ternyata begitu sempit. Namun, sekali lagi, hanya orang-orang terpilih yang mendapatkan hidayahNyalah, yang bisa merasakan cepatnya pergerakan waktu tersebut.

Karena itu, janganlah waktu melilit kita sedemikian rupa, sehingga kita tidak berdaya dibuatnya. Dan, kita dibuatnya takluk untuk menghabiskan seluruhnya untuk keperluan duniawi. Lalu, kapan untuk Yang Mahamengatur?

Ah, begitu lalainya manusia. Karena kesibukannya untuk mengais nafkah, karena konsentrasinya untuk mendulang karier, dan karena banyaknya hal yang bisa dijadikan alasan, sehingga untuk menyebut namaNya pun begitu pelit. Padahal, semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu. Bayangkan, setiap waktu. Artinya, hitungannya bukan lagi tahun, bulan, minggu, hari, jam, atau menit. Tapi, detik! Tak, tak, tak… Dan, tanpa henti.

Dan, sesungguhnya, Dia tidak membutuhkan nama-nama muliaNya itu disebut. Karena, Dia Mahamulia dan Mahatinggi. Dia memang tidak membutuhkannya. Sebaliknya, justru kitalah, makhluk yang sengaja disiapkan olehNya untuk menjadi khalifah di muka Bumi ini, harus sadar dan rumasa (tahu diri). KuasaNyalah yang membuat kita bisa merasakan nikmat hidup dan pemeliharaanNya.

Karena itu, cobalah menghitung kembali secara cermat kuantitas dan kualitas pertemuan-pertemuannya dengan Yang Mahamenghitung? Jujurkah kita dengan hitungan-hitungan tersebut? Biarlah untuk sementara ini, kita jadi berhitungan-hitungan ala ibadahnya pedagang (seperti disindir oleh Imam Ali bin Abi Thalib kw). Karena, di belahan bumi lain, begitu banyak bermunculan manusia-manusia yang telah tercerahkan dan larut dengan jalan lurus ke arahNya laksana Haji Kidung. Sejatinya, mereka pun masih berada di lingkungan kerja yang menuntut waktu dan keseriusannya.

Atau, jangan-jangan kita masih terus berupaya melepaskan lilitan beban masalah dengan senantiasa bersabar? Atau, justru kita tengah asyik bersyukur atas segala anugerah yang telah dilimpahkannya? Atau, justru kita tengah menjalani kepasrahan hidup, karena telah istiqomah dengan bersabar dan bersyukur? Namun, seiring dengan pencapaian-pencapaian telah didapat, apakah juga diimbangi dengan kualitas dan kuantitas ibadah laksana Haji Kidung?

Karena, bila telah bersabar, tapi kita lupa mengembalikan anugerah tersebut, masih layakkah bagi kita untuk menikmati kemuliaan seperti yang dijanjikanNya? Atau, dengan bersyukur nan tanpa batas, tapi kita lalai membayar ribuan anugerah yang datang, masih pantaskah bagi kita untuk merasakan kemuliaan-kemuliaanNya? Atau, dengan bertawakal nan tak bertepi, tapi kita juga alpa mengembalikan jutaan anugerah yang singgah, masih layakkah bagi kita untuk membelai kemuliaan demi kemuliaan? []

Selengkapnya...

Manusia dan Zuhud

Di kota tempat kita bermukim, pastinya banyak orang-orang yang ditempa ujian bersabar yang tak terkira. Mereka tersebar di setiap lingkungan. Apa pun bentuknya dan apa pun posisinya.

Kita ikuti saja cerita seorang penulis naskah atau scriptwriter di sebuah stasiun televisi ternama di Jakarta. Beberapa film dan sinetron yang ditulisnya termasuk sukses secara rating dan kualitas. Beberapa film yang ditulisnya juga pernah meraih penghargaan di beberapa festival. Tapi, karena alasan yang tidak jelas, kariernya justru tidak melaju pesat. Selalu setia di posnya yang sekarang. Bahkan, kalah dibandingkan yunior-yuniornya.

Sayangnya, ia sendiri tidak tahu, kenapa hal itu bisa terjadi? Sebaliknya, teman-temannya yang lain, yang kemampuan dan prestasinya biasa-biasa saja, justru mendapat kesempatan promosi dan menikmati banyak kemuliaan.

Kerap, ia dipaksa menulis cerita yang tidak sesuai hati. Atau, ia dipaksa bekerjasama dengan penulis pemula. Tujuan sebenarnya adalah alih kemampuan. Tapi, biasanya, kelak penulis pemula itu akan mereguk prestasi emas. Sedangkan sang scriptwiter, tetap di tempat lamanya.

Kerap juga, perusahaan merekrut penerjemah untuk mengalihbahasakan skenario-skenario dari negara lain, dan dijadikan skenario film kita. Praktek plagiat, sebenarnya. Sementara penulis naskah yang sebenarnya hanya bisa gigit jari. Kalau pun tenaganya dipakai, sebatas menyupervisi. Sehingga, ia tidak memiliki kebanggaan berkarya atau kesempatan berprestasi di tingkat festival.

Padahal, ia termasuk sosok pekerja yang sangat mencintai profesinya. Etos kerjanya jempolan. Ia ikhlas korban waktu dan tenaganya atas nama karya dan prestasi. Bahkan, kerap waktu ibadahnya pun tercecer. Malah, cenderung terbengkalai. Namun, apa yang didapat?

Sekedar gaji bulanan. Tiada ada karier. Tidak ada kepastian untuk memperoleh posisi yang lebih baik. Dan, tidak ada harapan memproleh nilai lebih atas seluruh jerih-payah tersebut. Ia tak ubanya pekerjaan kantoran yang mesti masuk jam sembilan dan pulang jam enam. Tidak lebih.

Namun, alam bawah sadarnya berfirasat bahwa ia tengah ditegur olehNya. Karena, ia juga merasa, di waktu-waktu kemarin terlalu mementingkan masalah duniawi. Sehingga, lupa daratan. Lupa dengan masalah lain di luar dunia film. Termasuk, Yang Mahamenguasai.

Setelah sadar akan teguran itu, ia pun mencoba memasuki atmosfir lain. Mengalihkan perhatian akal dan hatinya hanya untuk Tuhan. Sehingga, langkah-langkah pengkerdilan, ketidakadilan, atau perlakuan apa pun yang ia terima, dianggap sebagai hidayah. Atau, merasakannya sebagai petunjuk. Ia juga meyakini bahwa hal itu merupakan cara Tuhan untuk menghapus dosa-dosanya yang kemarin. Sehingga, ia pun benar-benar merasa tengah menikmati wajah sabarNya dan syukurNya.

Ia bertekad untuk terus bersabar menghadapi segala cobaan, ujian, ketidaknyamanan, atau ketidakadilan. Ia akan terus bersabar dengan tingkat kenaikan gaji yang kecil atau kelambanan karier. Ia akan terus bersabar berada di antrian. Allah kan mencintai orang yang sabar.

Ia pun senantiasa bersyukur atas apa-apa yang saya dapat. Gaji yang ia dapat sekarang, pada dasarnya, sudah lebih dari cukup. Ia tidak pernah lagi berpikir tentang orang-orang di atas. Tapi, ia lebih banyak berpikir orang-orang yang berada di bawah. Karenanya, ia akan terus berterima-kasih atas limpahan rahmat, hidayah, petunjuk, dan ujian-ujian, dari Yang Mahamemberi.

Artinya?

Pencapaiannya sekarang bukan lagi gaji atau jabatan. Bukan lagi rating atau festival. Itu semua sudah selesai. Tapi, urusan spiritual. Sungguh, ia sudah merasakan kenikmatan yang luar biasa atas langkahnya yang sekarang. Sehingga, ia pun makin memperkuat tekadnya, untuk memperbaiki akhlak, mengedepankan pengabdian untuk Yang Mahamengatur, dan istiqomah sebagai karyawan yang baik. Sekaligus, istiqomah sebagai insan yang telah berhijrah secara batiniah. Dalam artian, merubah pemikiran dan hatinya hanya untuk jalan lurus ke arahNya. Pilihan itu makin menguat, karena tiba-tiba ia pun sudah merasa tua. Tahun ini, ia berulangtahun yang ke-40.

Ada yang menyebutkan second born is in fourty. Usia 40 dianggap merupakan saat kelahiran kedua. Kalangan ahli tasawuf menyebutnya sebagai usia di persimpangan. Usia yang memaksa pemiliknya menentukan pilihan; menjadi kaum muttaqin, menjadi kaum kafir, atau kaum munafik? Pilihannya cuma tiga, tapi memilihnya susah.

Menjadi kaum muttaqin atau orang-orang taqwa, maka ia harus sudah memperbaiki akhlak, menyempurnakan prilaku dan sikap, meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, memperbanyak zikir, menambah terus kebajikan-kebajikan, dan itu sama artinya, dengan menapaki tingkatan-tingkatan spiritual untuk mendekatiNya.

Kalau menjadi kaum kafir, mudah saja, berbuat saja hal-hal yang dilarang dan tidak disukai oleh Allah. Langgar saja firman Allah dan hadits Rasulallah saw. Berpikirlah terus tentang duniawi. Sahlah kekafirannya.

Sedangkan menjadi kaum munafik, maka sama artinya dengan memasuki kehidupan dengan kepribadian-ganda. Senantiasa berupaya menjalani kaum apa saja. Sah untuk berbuat apa saja. Halal melakukan apa saja. Yang penting, tujuan pribadi tercapai. Sedikit basa-basi, berpura-pura menyukai orang lain, bersandiwara, akting, dan larut dalam kebohongan, jadi tampilan setiap waktu. Naudzubillah.

Ia memilih menempuh “bingksi” baru itu, ketika persoalan-persoalan dunia dirasa makin mengkerdilkan identitasnya sebagai khalifah. Begitu banyak waktu dan energi yang terbuang percuma. Tapi, ia tidak memperoleh apa-apa dari seluruh perjuangannya itu. Belajar dari kekalahan demi kekalahan itu, ia justru mencoba berubah dan membidik target hidup lain.

Dan, ia meresepi betul cobaan demi cobaan yang membuntukan karier dan masa depannya. Sehingga, ia pun membelokkan tujuan hidup pada hal yang paling hakiki. Ujian hidup berubah menjadi hidayah, sehingga mampu mengarahkan pada jalan yang lurus itu. Ia menjadikan hidayah sebagai awal kebangkitan, untuk menapaki masa depan yang lebih indah. Namun, bisa jadi, tidak lagi “modern” bagi sebagian besar orang. Terlebih lagi, bagi mereka yang masih mereguk manisnya jabatan, posisi, dan kemulian-kemulian di lingkungannya.

Kebangkitan itu sendiri tidak identik dengan pelarian atas kepungan masalah atau kemadekan karier. Tapi, “pribadi nan tercerahkan” adalah pilihan lain dari hidup. Siapa pun boleh hidup dengan pilihan apanya masing-masing. Entah dengan terus menjunjung semangat bermimpi, menggelorakan keinginan, memancangkan cita-cita, dan memancarkan ambisi, untuk meraih kebahagiaan duniawi. Atau, mencoba meraih target kebahagiaan di alam lain. Terserah saja.

Dan, sosok seperti sang penulis naskah menyadari dan meyakini betul dengan buah yang bakal dipanennya di masa mendatang. Karena, ia merasa yakin bakal meraih kemuliaan lain di masa mendatang. Dengan muslim yang telah menjadi mukmin, dan dengan mukmim yang telah berganti jubah sebagai sang salik (penempuh jalan kesucian), maka hanya waktu saja yang akan membimbingnya untuk mendapati kemuliaan nan tak terbatas. []

Selengkapnya...

Manusia dan Tawakal

Di sekeliling kita, utamanya di tengah suasana dunia kerja, masih adakah orang-orang yang memperlihatkan keperkasaannya dengan cara mengalah? Ya, menghadapi setiap cobaan, persoalan, atau ujian, justru dengan bertawakal. Memasrahkan keputusan atau kebijakan apa pun sebagai anugerah atau rezeki dariNya.

Di sebuah perusahaan farmasi, seorang brand manager bernama Helmi rajin mengajak teman-temannya berdiskusi tentang agama. Buku-buku dan print-out hasil browsing tentang masalah tauhid itu pun menumpuk di mejanya. Sehingga tidak jelas lagi, sebenarnya ia tengah bekerja atau memanfaatkan ruang kerja untuk mengaji?

Padahal, ia tidak sedang diparkir atau masuk kotak. Kesibukannya juga sangat banyak. Maklum, ia merupakan manejer untuk memasarkan produk-produk farmasi ethical dan OTC. Ethical merupakan jenis obat yang diresepkan, sedangkan OTC merupakan jenis obat yang dijual bebas. Tapi, ia tetap saja meluangkan banyak waktu dan memfaatkan kesempatan sebisa-bisanya, untuk melengkapai wawasan agama. Dan, sedapat mungkin berwasiat juga tentang kebenaran dan kesabaran kepada karyawan lain.

Tanpa bermaksud riya, kerap ia bertanya, apakah ia telah “berlagak” seperti sufi?

Sufi itu sendiri sekedar istilah untuk menggambarkan perjalanan seseorang dalam menyucikan akhlak dan tingkatan spiritualnya. Tanpa disebut nyufi, sebenarnya sosok seperti Helmi sudah “mendapatkannya”. Mengamalkan apa yang disebut ajaran tasawuf atau ajaran penyucian akhlak. Menunjukkan prilaku dan sikap terpuji, tidak menyakiti orang, dan senang berbuat kebajikan.

Dari segi ibadah, ia sudah melakukannya dengan di atas rata-rata. Melaksanakan shalat fardhu dan shalat sunnah secara kontinyu dan tepat waktu. Praktik nawafil. Shalat sunnah pun dianggap seperti shalat fardhu. Termasuk juga zikir-zikirnya. Lengkap sudah.

Gambaran tentang Helmi, tentu berbanding terbalik dengan teman-teman sejawatnya, yang lebih asyik berdiskusi dan berdebat ketimbang mengamalkan pemahamannya. Kenyataannya, memang banyak orang yang merasa pintar tasawuf, diskusi di sana-sini, dan bergaya seperti sufi. Padahal, maaf, cuma akting. Ya, pseudosufisme, sufi-sufian.

Bagaimana pula dengan keikutsertaan dalam kelompok tarekat?

Pada kenyataannya, praktik para sufi memang identik dengan peleburan diri dalam kelompok tarekat tertentu. Karena sang salik (penempuh jalan kesucian) memang membutuhkan kendaraan untuk mencapai tujuannya. Buah dari keterlibatan itu, maka kita pun dituntut untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah.

Bila di hari-hari kemarin, kita begitu patuh dan taat untuk menjalankan shalat fardhu dan shalat sunnah, maka setelah masuk kelompok tarekat kita akan diperkenalkan dengan shalat tarekh dan shalat daim. Shalat tarekh adalah ibadah yang diharapkan bisa berma’rifat atau mengenal Yang Mahapencipta. Sedangkan shalat daim adalah shalat sepanjang waktu, yang dilakukan selagi mata kita terbuka. Praktiknya sama dengan zikir khofi. Zikir dalam hati. Maknanya, merupakan upaya untuk terus mengingat adaNya dan kuasaNya. Atau, eling dalam filosofi Jawa.

Orang-orang yang tergabung dalam kelompok tarekat sama artinya dengan menceburkan diri dalam penyucian hati secara total. Mereka juga akan terus meniti perjalanan ibadahnya secara maksimal. Sehingga, mereka bisa mencapai tujuan sebagai manusia yang sempurna. Insan kamil. Dengan shalat daim sama artinya dengan shalat sepanjang waktu. Sepanjang detik hanya menyebut namaNya. Penyerahan diri secara kaffah. Total. Dengan begitu, mereka pun harus benar-benar menjaga prilaku dan sikapnya, karena mereka merasa terus diawasi oleh Yang Mahamengawasi.

Dengan shalat tarekh, mereka berharap terus bisa menikmati cahayaNya. Terus berma’rifat. Mereka itulah yang mencoba merasakan atmosfir shalatnya orang mu’min adalah ma’rifat. Dari segi syariat, ada ulama yang berpendapat, dengan seseorang merasa sebagai sufi, maka pelaksanaan ibadah syariatnya jadi lebih hebat. Secara kualitas maupun kuantitas.

Ilmu Tasawuf bukanlah sekedar ilmu pengetahuan. Ilmu Tasawuf bukan sekedar pelajaran tauhid. Tasawuf juga bukan hanya teori soal proses penyucian akhlak dan totalitas ibadah. Tapi, di dalamnya memang terdapat proses panjang, untuk menapaki maqom-maqom spiritual. Stasiun-stasiun pencapaian spiritual.

Ada ulama yang berpendapat, tasawuf dibagi dua; yang amaliah dan filsafat. Tasawuf Amaliah menekankan pada totalitas penyucian akhlak serta kualitas dan kuantitas ibadah. Ya, dengan praktik nawafil seperti yang diperlihatkan oleh Baginda Rasulallah Muhammad saw. Kelompok ini menyandarkan pada pemurnian ajaran Al-Qur’an dan hadits, dan tidak membaurkan dengan pengaruh lokal atau budaya setempat.

Sebaliknya dengan Tasawuf Filsafat, yang lebih menekankan pada totalitas penyucian akhlak, tapi tidak mengharuskan pengikutnya menjalankan praktik syariat. Bukan berarti mereka tidak melaksanakan shalat. Karena, sesungguhnya mereka menjalankan apa yang disebut shalat tarekh dan shalat daim, tanpa berhenti sedikit pun. Sedangkan shalat fardhu atau shalat sunnah tidak perlu dilakukan lagi.

Perumpamaannya adalah, jika Tasawuf Amaliah menuntut pengikutnya, untuk membuka serabut buah kelapa, membuka batoknya, mengolah dagingnya, hingga memanfaatkannya sebagai santan. Membuka serabut kelapa sama dengan syariat. Mengupas batok kelapa sama artinya dengan “jalan” menuju daging atau tarekat. Mendapatkan dan mengolah daging sama maknanya dengan meraih bentuk kelapa yang sebenarnya atau hakekat. Dan, bentuk akhirnya yang santan adalah makna dari pencapaian itu sendiri atau ma’rifat.

Sedangkan bagi pengikuti Tasawuf Filsafat, mereka melakukan “potong kompas” dengan langsung mengupas batok, mengolah daging, dan merasakan nikmatnya santan. Mereka meyakini, untuk tidak perlu lagi membuka serabut. Karena, hal itu sifat dhahir atau lahiriah saja. Bahasa gampangnya, sekedar mengikuti seremonial atau upacara rutin saja.

Helmi dengan kesibukan berburu pengetahuan agama (di sela-sela kesibukannya di kantor), bisa jadi, tak berbeda jauh dengan saudara-saudara kita, yang telah tercerahkan dan makin haus dengan wawasan ketauhidan dan ma’rifat. Perbedaan mencoloknya, Helmi tengah berada di posisi yang sangat baik dan dimuliakan. Tapi, ia justru tetap istiqomah menjadi insan yang tercerahkan, dan terus bertekad menyempurnakan penitian maqom-maqom spiritualnya.

Jauh sebelum Helmi mendapat kemuliaan dan surga yang didapatnya sekarang, ia pun pernah digempur persoalan-persoalan di lingkungannya. Kerja keras yang lebih dari 15 tahun, untaian prestasi yang ditorehkannya bertahun-tahun, justru sempat mengantarkannya ke “pos pembuangan” bernama Market Development Department. Sejatinya, departemen itu merupakan penampungan untuk karyawan yang dianggap tidak lagi produktif. Atau, semacam litbang.

Namun, Helmi menjalani dengan kesabaran nan tiada tara. Tiga tahun berada di pos tersebut, ia terus beristiqomah bersabar seraya mensyukuri apa-apa yang didapatnya. Berpasrah diri atas apa-apa yang didapat. Bahkan, dalam keterasingan dan ketiadaberdayaannya itu, ia justru menghasilkan ide-ide brilian yang mendukung penjualan produk-produk departemen lain. Perhatian dan nilai lebih pun menjelma menjadi anugerah. Sehingga, ia pun merasakan kemuliaan yang teramat sangat.

Dan, melengkapi perjalanan bersabar dan bersyukur yang dirintisnya sejak tiga tahun silam, ia pun makin istiqomah bertawakal. Segala prilaku dan sikap merupakan cerminan akhlak yang senantiasa bersabar dan bersyukur, serta mengalah apa apa yang dianggap keputusanNya. Bunga inspirasi yang dihadirkannya adalah upaya yang tak kenal lelah untuk istiqomah bertawakal. Dengan posisinya yang telah mapan, ia pun tengah mencoba menghijaukan sekelilingnya dengan iman dan tauhid. Serta mengembangkan dengan sepenuh hati amanah sabda Baginda Rasulallah saw, untuk terus berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran. Subhanallah.

Kita abaikan untuk sementara dampak atau hasil. Karena, hal itu akan berpulang kembali pada kuasa Allah. Yang pasti, manusia wajib berikhtiar. Termasuk dalam syiar Islam dan berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran tadi. Namun, niat, tekad, dan usaha, yang mereka kembangkan, sesungguhnya keinginan yang menggebu untuk membangun surga yang hakiki. Surga yang berlandaskan Islam, Iman, dan Ihsan..

Dengan tangan kecilnya, Helmi berharap terjadi perubahan pula di lingkungan kerjanya. Siapa tahu hidayah demi hidayah menyapa atasannya, teman-teman kerjanya (bahkan yang dulu memusuhinya), dan juga teman-teman lain yang sejalan. Sehingga, lingkungan kerja itu bakal menjadi lebih sejuk dan menetramkan.

Ia bukan hanya menikmati kenyamanan Islam sebagai kendaraan untuk menapaki jalan lurus. Tapi, iajustru makin melarutkan diri dengan kedalaman ajaran Islam itu sendiri, untuk menjangkau surga yang sebenar-benarnya. Surga di dunia dan akhirat. Maka, semoga saja, orang-orang semacam Helmi ikut bergembira dengan jubah ketawakalannya.

Sementara di tempat berpijak yang lain, kita masih sering mendengar cerita tentang orang-orang yang masih digoda banyak pilihan. Baik menyangkut persoalan duniawi maupun masalah akhirat. Masing-masing pun memiliki dampak yang berbeda-beda bagi perjalanan hidup kita. Yang pasti, selama diri kita masih disibukkan keinginan-keinginan untuk memecahkan persoalan duniawi, maka tekad untuk mendapatkan kemuliaan di hadapanNya, jadi sulit. Allah akan memalingkan wajahnya kepada kita, jika kita tidak mengarahkan wajah kita kepadaNya. Semuanya berpulang dari kita.

Jangan berpikir atau berburuk-sangka, Allah tidak akan menegur dan memperingatkan kita atas segala kekeliruan atau kealpaan. Itu keliru. Karena pada dasarnya, kita tidak pernah sadar dan mengerti bahwa Allah senantiasa memperhatikan kita. Tapi, justru kitanyalah yang tidak pernah menandai setiap cobaan atau ujian sebagai teguran. Apalagi hidayah.

Seyogyanya diri ini tidak terlalu larut dengan masalah-masalah duniawi. Kita tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tapi, pikiran dan hati mesti terus diarahkan kepadaNya secara total. Jangan berpikir terlalu berlebihan tentang jabatan, kedudukan, posisi, gaji, atau fasilitas. Jangan terlalu berburuk-sangka juga pada atasan atau teman-teman kerja. Tapi, saatnya juga merubah akhlak. Menampilkan citra diri yang bisa menjadi teladan bagi orang lain. Minimal, istri dan anak-anak kita. []

Selengkapnya...