Ketika berbicara tentang situasi sosial di sebuah perusahaan atau kantor, maka fokus masalahnya akan lebih mengarah pada interaksi antara atasan dan bawahan. Atasan atau boss adalah pembuat dan pengatur kebijakan, untuk mencapai target perusahaan. Sedangkan bawahan adalah pelaksana atas kebijakan-kebijakan itu sendiri.
Bila bawahan dituntut untuk memiliki kemampuan, semangat, kepatuhan, dan loyalitas, bagaimana dengan atasan? Jawabannya, sama. Karena, atasan juga memiliki atasan. Pucuk kepemimpinan tertinggi digenggam oleh pemilik perusahaan. Akibat adanya hirarki hubungan-hubungan itu, dengan sendiri, setiap atasan mesti “berjuang” untuk mendapat nilai lebih di mata atasannya. Sehingga, jurus akrobatik memainkan elemen-elemen; kemampuan, semangat, kepatuhan, dan keberuntungan, juga terjadi. Efek selanjutnya dari permainan tersebut, sudah bisa ditebak, bawahanlah yang harus menerima segala resiko.
Bila berhasil, kerap sang atasan akan menyebutnya sebagai buah kerja kerasnya dan berharap mendapat penghargaan atau apresiasi. Sebaliknya, jika gagal, maka kerap bawahan pula yang dikorbankan dengan banyak alasan. Kenyataan seperti itulah yang membuat persoalan-persoalan tidak sehat bermunculan. Banyak orang lebih suka berburuk-sangka (su’udzon) kepada atasannya dan teman-teman kerjanya. Hakekat team work sekedar basa-basi. Karena, pada kenyataannya, ada orang-orang yang tidak sabar dalam antrian dan menghalalkan segala cara, untuk memenangkan kepentingannya.
Apakah ini kaitannya dengan kualitas kepemimpinan? Atau, karena agama senantiasa dianggap tidak memiliki makna apa-apa di lingkungan kerja?
“Kepemimpinan merupakan bakat, seni, dan kemampuan, yang sering dibilang tidak ada sekolahnya. Wawasan dan pengalaman kerap menjadi pijakan. Tapi, agama atau adat-istiadat juga bisa memberikan pengaruh,” papar seorang Dosen Ilmu Manajemen saat kuliah dulu.
“Bulan ini, ada enam atau tujuh orang yang resign di kantor saya. Katanya, mereka nggak cocok dengan mbak Mia, redaktur pelaksana saya,” cerita seorang wartawan di sebuah majalan wanita ternama. Namanya, Tia. Ia juga menambahkan bahwa sejak bidang redaksinya dipimpin oleh “orang dekat” pemimpin redaksi, sudah 10 orang mengundurkan diri dalam tempo tiga bulan. Dengan tambahan enam atau tujuh orang yang bakal mundur, berarti dalam kurun empat bulan, sudah ada 16 atau 17 orang meninggalkan majalah tersebut. Termasuk angka yang fantastis untuk sebuah lembaga pers.
“Apakah hal itu bisa dijadikan alasan bahwa ia tidak kapabel, tidak becus, tidak memiliki jiwa kepemimpinan, sehingga perahu kami oleng?” Tanya Tia dengan gusarnya. Pasalnya, banyak teman-teman dekatnya yang ikut mundur. Sehingga, ia pun merasa kehilangan.
Tia juga menuturkan latar belakang redaktur pelaksananya, yang ternyata merupakan yuniornya. Sehingga, bila ada uji kompetensi, bisa dipastikan, bossnya Tia akan terpental. Karena, kemampuannya memang belum seberapa dan masih kalau jauh dibandingkan Tia. Kelebihannya adalah pada semangat, kepatuhan, dan loyalitas. Selain itu, ia juga pintar mempresentasikan diri. Terlebih lagi, ketika ia berada di ruang rapat. Kesannya, ia perempuan yang cemerlang, cerdas, dan berprospek. Tidak heran, ia bisa gampang mendapat nilai tinggi. Meskipun tidak bisa dipungkiri, faktor keberuntungan atau lucky juga ikut andil dalam perjalanan karier Mia.
Bila dalam struktur perusahaan non media, redaktur pelaksana setara dengan manejer senior yang membawahi para redaktur dan reporter. Posisinya merupakan vital. Karena, ia merupakan penghubung antara redaktur dan reporter ke pemimpin-pemimpin di atasnya. Termasuk, pemimpin redaksi.
Walhasil, banyak perubahan besar setelah ia naik pangkat. Teman-teman sekaumnya pun mendapatkan durian runtuh. Sehingga, antrian pun menjadi kacau-balau. Sistem pengembangan sumber daya manusia porak-poranda. Dan, kualitas kerja pun menurun drastis. Sayang, memang.
Profil atasannya Tia adalah gambaran pemimpinan berusia muda pada umumnya. Enerjik, terlalu bersemangat, mengabaikan rambu-rambu, haus pujian, ingin terus dibanggakan, dan mudah panik. Barangkali, ia sedang mencapai puncak kesombongan, puncak kebanggaan diri yang teramat sangat. Narsis. Atau, gede rasa. Sehingga, kini ia seakan berada di atas menara gading, yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun. Jangankan untuk memberi masukan, memberi pujian pun sulit. Terlalu jauh jaraknya.
Padahal, dengan kasat mata, semua bawahannya tahu dan paham sekali segala kekurangannya. Karena dukungan para cheer leadernya, ia menjadi semakin adigung. Gambaran kawula yang memuja-muja gustinya laksana Tuhan. Sehingga, orang-orang semacam Tia pun bukan hanya harus menelan kejengkelan. Tapi, harus menelan ludah dengan segala kegundahan. Bahkan, ia pun harus bertanya-tanya; bagaimanakah gambaran pemimpin yang ideal itu?
Buat kita, jawaban atas pertanyaan seperti itu, mudah saja. Karena bila berbicara tentang kepemimpinan, maka acuannya sudah jelas, yakni tauladan yang diberikan oleh Baginda Rasulallah Muhammad saw. Ia adalah kekasih Allah, manusia tersempurna, manusia yang senantiasa dilindungi akhlak dan kemuliaannya (mahsum) dan tidak bandingannya di jagat ini. Karena itu, jiwa kepemimpinannya pun perlu ditiru. Adil, bijaksana, egaliter. Dan butuh halaman panjang untuk menguraikan semua kelebihannya.
Sedikit catatan penting yang bisa diteladani oleh kita adalah sikap ladang dada dan kendali emosi. Beliau senantiasa menerima pujian, kritik, celaan, bahkan hinaan, dengan senyum. Legowo dan tidak menyimpan dendam. Dan, tidak sekali pun memperlihatkan reaksi berlebihan atas serangan atau teror musuh-musuhnya.
Coba juga resapi pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauzy bahwa ketika seorang hamba mengikuti seorang laki-laki, maka lihatlah apakah dia termasuk ahli zikir atau termasuk golongan lalai, dan apakah hakimnya hawa nafsu atau wahyu? Jika hakimnya adalah hawa nafsu, maka perintahnya harus diabaikan.
Pendapat tersebut memberikan gambaran soal sosok pemimpin. Pertama, dia laki-laki. Contoh-contoh kepemimpinan dalam khazanah Islam memang senantiasa menempatkan kaum Adam sebagai orang nomor satu. Tidak ada pernyataan atau dalil, yang menampilkan perempuan sebagai pucuk pimpinan.
Kedua, kualitas dan kuantitas ibadah dan penyerahan diri kepadaNya. Masalah zikir yang dipersoalkan merupakan bukti, Islam menekankan kepada setiap pemimpinnya untuk rajin berzikir dan senantiasa berserah diri. Maknanya adalah orang-orang yang tidak terlalu mempedulikan masalah duniawi. Istiqomah sebagai zahid – orang yang disiplin menjaga jarak dengan persoalan duniawi dan pemenuhan hawa nafsu. Jiwa-raganya hanya untuk Allah swt.
Ketiga, tentang hakimnya yang harus wahyu, tentu saja, berkaitan dengan kualitas dan kuantitas ibadah atau zikirnya tadi. Islam berharap mendapat pimpinan yang sudah matang secara spiritual, senantiasa meminta petunjuk dari Allah swt, dan tidak dikendalikan oleh hawa nafsu atau thogut.
Meskipun demikian, harus diakui, menghubungkan situasi di kantornya Tia dengan kacamata agama, sebenarnya tidak terlalu tepat. Sandaran agama lebih tepat digunakan pada organisasi atau lembaga yang tradisi agamanya memang sangat kuat. Contoh kasusnya adalah Kesultanan Demak Bintoro, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten, Kesultanan Palembang Darussalam, atau Kesultanan Butuni.
Konyolnya, di antara orang-orang semacam Tia kerap muncul pertanyaan aneh, mengapa Allah juga seakan membela keberadaan atasan atau pemimpin yang tidak kapabel seperti atasannya Tia itu? Sehingga, ia bisa langgeng dan terus saja memperlihatkan ketidakmampuan?
Masih ingat tentang cerita raja mukmin dan raja kafir? Allah mengatur agar raja mukmin terus mendapat kesusahan, karena Allah berkehendak agar ia mendapat nilai bagus yang sempurna dan kemuliaan di akhirat. Sebaliknya dengan raja kafir. Allah memberikan terus kemudahan kepadanya, karena Allah berkehendak agar ia mendapat nilai buruk yang sempurna dan kesengsaraan di akhirat.
Allah mengatur sedemikian rupa, dengan memainkan kekuasaanNya yang tanpa batas. Allah tunda kemudahan, karena akan memberikannya di kesempatan lain. Sebaliknya, Allah bisa berikan kemudahan, tapi akan membalaskan kesulitan di kesempatan lain. Semua itu adalah misteri Allah. Tapi, kita harus meyakini adaNya dan kuasaNya. Allah memang Mahamengatur dan Mahamerencanakan.
Contoh paling ekstrim, belajar pada kisah Fir’aun; memiliki kemuliaan yang teramat-sangat, kaya-raya, berpikir sebagai Tuhan, tengah berada di puncak kemuliaan, puncak kesombongan, puncak riya, dan berbagai puncak kebanggan diri lainnya. Tapi ketika waktunya tiba, ia terjerumus dalam kematian yang buruk. Su’ul khotimah. Hanya demikian kejayaan sang raja agung, ketika Yang Maharaja memperlihatkan keperkasaanNya.
Kembali mengingat dan meyakini adaNya dan kuasaNya. Tapaki terus tahapan-tahapan spiritual yang bisa membuat pikiran dan hati kita terjaga. Bersabar, bersyukur, berpasrah diri atau bertawakal, mengatur jarak dengan masalah duniawi, dan berserah diri. Tanpa berpikir, untuk membalas atau meresponnya secara negatif. Tapi, peliharalah terus sifat berbaik-sangka. Husnuzon, maksudnya.
Kalau kita masih mempertanyakan kehendak Allah lantaran membela atasan yang lupa diri, artinya kita masih meragukan semua rencana dan aturan-aturanNya. Kita justru terpancing, untuk malas mengikuti antrian, malas bekerja keras, menghalalkan segala cara, membabi-buta mencapai keinginan, akhirnya, tanpa sadar kita telah berburuk-sangka juga kepada Gusti Allah. Bersabar, bersabar, dan teruslah bersabar sampai kapan pun. Cuma itu jawaban terbaiknya, agar situasi tidak menjadi keruh. Buat sementara, lupakan teori-teori manajemen atau profesionalisme, karena dalam kondisi tertentu seakan tidak bermakna.
“Sabar kan ada batasnya,” sergah Tia.
Kenyataanya, tidak. Kalau saja sabar batasnya, maka orang itu sudah sampai pada titik putus asa. Tidak percaya adaNya dan kuasaNya. Berhenti juga kesucian hati dan perjalanan spiritualnya. Ia menjadi seperti manusia kebanyakan lagi. Manusia awam. Awam segala-galanya. Yang hanya mengerti masalah duniawi, hawa nafsu, harta benda, lawan jenis, lupa ibadah, lupa zikir, lantaran larut dengan kesibukan memburu semua itu.
Ibarat permainan lego, bersabar adalah balok-balok pembentuk pondasi. Rangkaian balok terbawah. Ia dasar dan menjadi penopang bangunan di atasnya. Kalau bagian itu roboh, maka permainan usai. Dan, kita harus menyusunnya kembali dari dasar. Dari awal. Meskipun, saat itu kita telah membentuk dindingm atap, serta pintu dan jendela. Karena, mana ada bangunan yang tidak memiliki pondasi?
Banyak cara Allah swt untuk menguji ketabahan dan kemampuan bersabar umatNya; ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, dan sebagainya. Tapi, senantiasa ada janji kemuliaan di balik semua ujian itu. Bersabarlah untuk menanti kedatangan berita gembira itu. Maaf, berita gembira itu hanya dipersembahkan kepada orang-orang yang sabar. Begitu mulianya mukmin yang bersabar, sehingga Allah swt terus membelainya dengan ujian, cobaan, dan peringatan. Namun, Dia juga tetap menjanjikan kebaikan di belakangnya.
Sebaliknya, dengan Mia. Justru dengan kesempatan dan kemuliaan yang diperolehnya, ia malah lupa diri. Entah apa yang di dalam konsep manajemennya? Entah target apa yang dicapai dengan konsep itu? Sehingga harus dijawab dengan hengkangnya reporter-reporter handal di tempatnya. Bahkan, orang-orang yang masih bertahan pun sesungguhnya dibuat tidak nyaman. Mereka khawatir perahunya makin oleng dan karam laksana kapal Titanic.
Dan bila kita hubungkan dengan kepribadian punggawa perahu sandeq, maka makin terasalah jurang perbedaannya. Kita abaikan jenjang pendidikan atau status sosial. Tapi, kita fokus soal bangunan batiniah di dalam jiwa kedua pemimpin tersebut. Maka, akan jelaslah terlihat bahwa atasannya Tia memiliki latar belakang kejiwaan yang tidak jelas dan “bangunan” personal power yang juga kosong.
Dengan pondasi kejiawaan yang lebih banyak bertumpu pada elemen semangat, kepatuhan, dan keberuntungan, maka ia telah melupakan hakekat pekerja kreatif, yang mestinya memperlihatkan keterampilan. Dengan pengabaikan elemen terpenting itu, maka kita akan sulit mendapati bukti adanya pribadi-pribadi nan bersabar, bersyukur, bertawakal, berzuhud, apalagi berserah diri. Karena kemuliaan yang didapat secara keberuntungan itu membuatnya tidak pernah paham bahwa ada orang-orang di sekelilingnya yang mesti menggapai kemuliaan, dengan melewati tahap-tahap batiniah yang rumit.
Buah yang harus dipetik oleh Mia, tentu saja kemuliaan yang belum saatnya dipetik. Sehingga, ia pun terlihat laksana buah yang matang dikarbit. Terlihat ranum, namun rasanya tidak karuan. Secara lahiriah terlihat juga kekeringan dan kesulitannya mendapatkan simpati dari bawahannya.
Parahnya, kelemahan itu pun harus ditutupi proteksi defensif yang membuatnya makin jauh dari akar rumput. Beruntung masih ada orang-orang yang tidak bersabar dan berharap cepat-cepat mendapat perhatiannya. Dampak selanjutnya, keharmonisan organisasi pun makin terganggu. Di sisi lain, bawahan yang tidak berani “jual diri” menjadi batu sandungan tersendiri dan kerap dianggap akan merepotkan dirinya.
“Lalu, bagaimana agar saya bisa diterima oleh atasan saya?” Tia masih penasaran.
Dari sisi profesionalisme, hitung-hitung kembali soal empat elemen “kedekatan”; kemampuan, semangat, kepatuhan, dan keberuntungan. Mungkin saja kita lebih mampu dibandingkan atasan atau teman kerja lain, mungkin kita lebih semangat dibandingkan teman-teman lain, tapi apakah kita bisa memperlihatkannya? Atau, sudah sesuai seperti yang diingankan oleh atasan? Belum tentu.
Kalau pun misalnya bisa, apakah mereka juga bisa ikhlas menerimanya? Kenapa harus ada kata ikhlas?
Perhatikan lagi elemen kepatuhan. Ingatlah, seseorang tidak akan dengan mudah yakin akan kepatuhan kita, bila ia merasa bahwa kita tidak pernah memilikinya. Perlu waktu lama, untuk meyakinkan hal itu kepada siapa pun. Terlebih lagi pada atasan. Atau, kalau pun sudah mencoba untuk memulainya, perhatikan juga teman-teman lain. Terlebih lagi, orang-orang yang selama ini dekat dengan sang atasan. Pastinya, kita kalah start dibandingkan teman-teman lain atau pendukung sang atasan dalam menumpuk nilai kepatuhan. Kita kalah bersaing.
Sehingga, kalaupun kita berusaha terus memperbaikinya, ya perlu waktu lama. Banyak faktor yang membuat seseorang atau atasan akan mengerti kemampuan kita, semangat kita, dan kepatuhan kita. Dan, sulit dijabarkan secara teori. Sangat sulit.
Larry King dan Bill Gilber dalam bukunya “Seni Berbicara kepada Siapa saja, Kapan saja, di Mana saja”, harus menyediakan bab tersendiri untuk mengajarkan cara berkomunikasi yang baik dengan seseorang. Terlebih, kepada atasan. Intinya, kita harus berbicara dengan kejujuran hati, menunjukkan minat terhadapnya, membuka diri, dan memperlihatkan sikap yang benar – membuat nyaman lawan bicara. Bila dirangkum dalam satu kata, empati namanya. Bisakah kita melakukan hal-hal seperti itu?
Kalau pun bisa, apakah atasan kita paham atau mengerti dengan usaha itu? Jangan-jangan ia memiliki teori atau dasar pemikiran lain tentang teknik berkomunikasinya. Sehingga, nggak nyambung juga jadinya. Ini boleh dibilang kemungkinan terburuk atau pahitnya. Tanpa bermaksud su’udzon.
Simak juga pendapat pakar psikologi David J. Lieberman dalam “Agar Siapa saja Mau Melakukan Apa saja untuk Anda”, yang menekankan makna keakraban, perlunya berkumpul bersama orang yang kita maksud, menunjukkan sikap suka dan perhatian terhadapnya, seraya menunjukkan itikad untuk membangun komunikasi yang baik – dengan memperlihatkan antusias, gairah, riang, aktif, dan membuatnya nyaman. Memperlihatkan sikap positif terhadapnya. Lagi-lagi, empati jawabannya.
Bisakah kita melakukakannya?
Kalau pun iya, lagi-lagi kita harus mengujinya, apakah ia mengerti dengan kerja keras atau pendekatan kita itu? Jangan-jangan ia memiliki pendapat lain soal psikologi menghadapi teman kerja atau bawahan. Ingatlah kita bawahan dan ia atasan. Ada jarak. Sehingga, khawatir tidak nyambung lagi. Mubazir jadinya.
Kenapa harus ada pertimbangan pesimis?
Karena, kita pun harus bijak membaca persoalan tersebut, dengan mempertimbangkan juga nuansa politik di dalamnya. Sehingga, hitungan pada aturan baku atau teori kerap bertolak belakang. Pahamilah kondisi politik atau pembiasan makna profesionalisme di setiap lingkungan kita. Selain itu, dari sisi kitanya, apakah bisa melakukannya? Kelihatannya mudah, tapi adakah keikhlasan untuk melakukannya? Belum tentu. Ingat uraian soal begitu beragamnya perbedaan antara kita dan dia.
Kita ambil contoh, misal, soal perbedaan usia. Cobalah rasakan, betapa hal itu membentangkan jarak yang teramat lebar. Terlebih lagi, bila usia atasan kita lebih muda dibandingkan kita. Sebenarnya, kita dalam posisi mengasuh. Tapi, mungkinkah kita mengasuh atasan? Jelas tidak mungkin!
Atau, kita berandai-andai, dengan mencoba memasuki ke dalam hidupnya lebih dalam. Taruhlah kita mencoba mengikuti hobbinya yang bermusik. Pertanyaannya, apakah kita memiliki selera musik dan lagu yang sama dengannya? Belum tentu. Apakah teknik bermusiknya sama terampilnya dengan kita? Belum tentu. Apakah mood bermusiknya juga sama dengan kita? Belum tentu.
Artinya, tetap saja ada perbedaan-perbedaan. Sehingga, agar bisa diterima, kita harus mengalah pada selera musik dan lagunya, tunduk pada teknik bermainnya, dan membuntuti moodnya. Rumit, kan?
Sekarang, hubungankan dengan dunia kerja kita. Secara kasat mata, kita bisa lihat perbedaan-perbedaan kita dan atasan secara kemampuan, semangat, kepatuhan, dan keberuntungan. Bisakah kita menyatukan atau membaurkan diri terhadap jutaan perbedaan-perbedaan itu? Lagi-lagi, harus super-ngalah dan benar-benar lapang dada. Butuh pengorbanan besar. Terlebih lagi, jika menghubungkannya dengan idealisme atau profesionalisme. Repot, jadinya.
Cara yang paling bijak, tetaplah berpikir untuk menunjukkan kemampuan semaksimal mungkin, menunjukkan semangat semaksimal mungkin, dan sedapat mungkin memperlihatkan juga kepatuhan itu – meski mungkin tidak menyamankan hati kita. Tapi, jangan pernah mempertanyakan atau mengeluhkan hasil dari semua usaha itu. Apa pun penilaiannya. Lapang dada saja. Menerima apa pun yang diputuskan oleh atasan. Karena, kini memang saatnya bertawakal.
Apa pun yang kita rancang, apa pun yang kita rencanakan, dan apa pun yang kita lakukan, semua atas ridha Allah. Karena itu, hasilnya pun terserah Allah. Karena, Allah memang telah merancang, merencanakan, dan mengatur segalanya buat kita. Saatnyalah bertawakal atas apa yang terjadi sekitar kita. Saatnya berpasrah diri atas karakter-karakter orang di sekeliling kita. Entah atasan, teman-teman setingkat, atau bawahan.
Orang-orang dulu tidak mengalami stress atau frustrasi atas segala yang didapatnya. Panen gagal, ya tersenyum. Kena musibah, masih bilang, untung blablabla… Mereka benar-benar lapang dada atas anugerah apa pun. Karena, semuanya disandarkan pada prinsif lillahi ta’ala.
Sementara dari sisi Mia (atasan Tia) juga menjadi bukti kerapuhan sebuah manejemen, yang bisa sesuka-sukanya memainkan pola kepemimpinannya. Padahal, sosok itu menjadi perwakilan sistem perusahaan. Sekaligus citra yang telah dibangun oleh para pendahulunya. Bayangkan, bagaimana kecewanya para perintis atau mungkin juga pemilik yang sekarang, bila mereka mengetahui kenyataan yang sesungguhnya terjadi di lingkungan kerja Tia? []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar