Di tempat saat ini kita berdiri dan mengais nafkah, adakah pemimpin nan kharismatik laksana para Sultan Butuni? Atau, paling tidak ia memiliki pola leadership laksana punggawa perahu sandeq? Bila tidak, lalu bagaimana kita menyikapinya?
Ingat pemimpin yang bisa mengemban amanah, jadi teringat pula soal nasib seorang staf pelaksana atau office boy di topik terdahulu. Ia dikalahkan oleh taman-temannya yang bisa mencuri hati sang atasan. Ia gagal berkompetisi karena teman-temannya ikhlas menjadi safety player. Bahkan, menjadi kaum munafik.
Dan banyak contoh kasus yang bisa menjadi pembuktian, kaum munafik ternyata bisa lebih berhasil di segala bidang. Apa pun bentuk pekerjaan dan posisinya. Pertanyaan konyol sang office boy, “Kenapa kaum muttaqin – orang-orang yang taqwa – harus kalah melawan kaum munafik di setiap persaingan? Apakah Allah tidak adil? Atau, adakah alasan paling sempurna di balik kasus-kasus seperti itu?”
Jawabannya yang paling sederhana dan gampangan, karena mereka tidak memiliki tuntutan untuk melewati menempuh jalan spiritual. Mereka tidak perlu berpikir bersabar, bersyukur, bertawakal, berzuhud, apalagi berserah diri. Mereka boleh menghalalkan segala cara. Karena, tujuannya beda. Arah pencapaiannya beda. Mereka memusatkan perhatiannya hanya pada masalah duniawi. Sedangkan kita? Tentu saja, harus memikirkan pula arah yang lain. Jalan untuk istiqomah. Yakni, langkah menuju jalan lurus menujuNya.
Jangan berpikir atau merasa kalah. Karena, sesungguhnya kita tidak sedang bertarung atau berkompetisi. Tapi, kita berada di satu tempat dengan tujuan yang berbeda. Situasilah yang memaksa kita untuk berkompetisi atau bersaing. Karena itu, kita tidak mungkin memaksakan tujuan kita pada orang lain. Sebaliknya, orang lain pun tidak mungkin memaksakan tujuannya pada kita.
Dan, karena perbedaan yang teramat hakiki itulah, atasan bisa merasa tidak sejalan dengan kita. Sebenarnya bukan ancaman. Bisa jadi, hanya karena atasan memilih situasi nyaman untuk menjalin kerjasama dan mencapai target perusahaan. Karena itu, pilihan itu pun harus dijatuhkan pada orang-orang yang dianggapnya sealiran atau segolongan. Kalau sampai ada orang yang tidak berprinsif – awalnya mungkin berbeda tapi tiba-tiba menjadi penurut atau menjadi kaumnya – itu adalah haknya. Persisnya, sosok safety player. Namun, sekali lagi, itu adalah haknya!
Banyak cara untuk berhasil. Dan, bisa jadi, banyak orang yang berpikir menjadi safety player merupakan kunci terampuh untuk berhasil. Meskipun dengan resiko, ia harus disebut latah, pecundang yang cari aman, bahkan cheer leader sang atasan.
Tentu kita juga masih ingat, bagaimana dengan kelanjutan cerita sang office boy yang pernah kalah (bahkan sekarang pun masih tergolong orang kalah), ketika ia didepak dari kantor lamanya. Lalu, ia beralih profesi menjadi tenaga honorer dengan pangkat terendah. Sehingga, ia harus membuang jauh-jauh gengsi dan kebanggaan masa lalu. Sebaliknya, ia pasrahkan hati, untuk ikhlas menerima “pakaian” barunya.
Di sisi lain, perjalanan spiritualnya untuk mendapatkan kemuliaan dari Yang Mahamulia, justru kian gencar. Shalat fardhu dan sunnah dilaksanakan dengan penuh khusu dan tepat waktu. Baginya, waktu shalat bukan lagi lima, tapi ditambah dengan shalat dhuha dan shalat malam. Semuanya seakan jadi kewajiban yang harus dilakukannya setiap hari.
Puasa Senin-Kamis atau puasa Nabi Allah Daud as juga tak luput dari rutinitas ibadahnya. Bahkan, dengan income yang alakadarnya, justru tidak menyurutkannya tekadnya untuk berzakat dan bersedekah kepada siapa pun. Zikirnya pun jangan ditanya. Istighfar, salawat, dan tahlil, adalah rangkaian wirid yang tak pernah lepas mulutnya. Namun, siapa nyana, dengan ketangguhannya beristiqomah, justru membuatnya terpeleset juga ketika tiupan setan Idazil menembus telinganya hingga sampai ke hati.
Kesimpulannya, bila shalat dan zikir kita masih juga membuat kita marah dan kecewa, lantaran tidak sejalan dengan apa-apa yang didapat secara materi, jangan-jangan karena kita melakukannya bukan atas ridha Allah? Tapi, malah berpamrih, supaya Allah secepatnya memberikan pangkat, jabatan, posisi, gaji yang tinggi, dan fasilitas kantor. Subhanallah!
Ridha Allah telah memberikan hasil yang tidak kecil. Karena, Allah tetap menjanjikan, untuk menggunakan kuasaNya untuk bertindak sebagai Penolong dan Pelindung kita di setiap kesempatan. Sehingga, aliran nikmat dan karunia akan senantiasa dicurahkan untuk kita. Sehingga juga, hembusan azab dan bencanaNya tidak akan menyinggahi kita. Karena itu, bersyukur atas ridha memang sebuah keharusan, bila kita berharap memperoleh karuniaNya yang teramat besar.
Karena itu, kalau shalat kita, zikir kita, dan seluruh pekerjaan dilakukan atas ridha Allah, maka kita tidak perlu mengeluh kepada Allah. Kita tidak perlu bertanya sinis soal nasib kita. Ikhlas saja. Ikhlas dan ridha menerima semuanya.
Kesediaan menerima apa pun dari Gusti Allah. Karena tanpa dibilang atau dimunajatkan, sesungguhnya Allah telah mengetahuinya. Maka, sia-sia juga memprotes dan berteriak lantang soal nasib dan masa depan, bila Allah memang belum menghendaki perubahan.
Seiring dengan itu, ketika kita sadar akan tujuan hidup kita yang berbeda dengan atasan atau teman-teman sejalan, maka kita pun harus sadar akan resiko-resikonya. Termasuk, tersendat-sendatnya karier atau kenaikan gaji. Pokoknya, masalah duniawi.
Masalahnya, apakah karena masalah-masalah itu kita harus mengorbankan keinginan kita untuk dekat denganNya? Haruskah kita juga larut dalam dunia kompetisi yang tidak sehat, menghalalkan segala cara, malas mengantri, terlibat dalam intrik-intrik, dan sebagainya, sehingga kesucian hati kita ternodai?
Subhanallah, perlu kerja keras dan kesabaran tinggi, agar hijab-hijab atau selubung hati kita terbuka, dan bisa memandang cahaya Allah. Sehingga sangat disayangkan, bila tekad untuk menjadi “orang yang berubah dan tercerahkan”, dengan terus menyucikan hati secara total dan beribadah dan berzikir secara kaffah, rusak karena belaian hawa nafsu duniawi.
Masalahnya, bagaimanakah sebaiknya menghadapi atasan atau teman-teman yang tidak sejalan dengan kita?
Bila pada bab terdahulu, kita dihadapkan pertanyaan tentang cara masuk atau membaur dengan atasan atau teman-teman yang tidak sejalan, maka kali ini arah pertanyaan lebih menajam. Bila di bab terdahulu arahnya, kita mengalah dan mencoba ikut dalam kaumnya. Maka, pada bab ini, kita istiqomah dengan pilihan kita dan mencoba bijak untuk menghadapi mereka.
Sang office boy tergolong sosok yang bisa menyembunyikan sikap yang sebenarnya, ketika ia berhadapan dengan atasan atau teman-teman yang dianggapnya tidak sejalan. Meskipun jauh di dalam hatinya, ia terus menyimpannya sebagai “masalah” besar dan perlu jawaban tepat. Yang dikhawatirkannya hanya satu, penitian jalan batiniahnya tercoreng karena persoalan tersebut.
Jangan pernah berpikir kaum kafir atau kaum munafik sebagai musuh kita, lawan kita, atau kompetitor kita. Belajarlah kepada sikap Imam Ali bin Abi Thalib kw, ketika beliau dihadapkan pada masalah yang sama. Jawab beliau, “Itulah saudara-saudara kita yang berbeda paham dengan kita.”
Sekedar berbeda paham.
Sederhana alasannya.
Sehingga, kita tidak perlu berpikir terlalu jauh, untuk menuduhnya sebagai kompetitor, pesaing, atau musuh. Bahkan, jangan lagi menyebutnya sebagai kaum kafir atau munafik. Biarlah hanya Allah Swt yang mengatur sebutan atau julukan-julukan buat mereka. Namun, sebagai manusia yang paham akan adab dan etika pergaulan, kita harus menjalankan hukum pergaulan yang lebih sehat dan berakhlak mulia. Bersikap seperti biasa dan memandang atasan dan kaumnya sebagai saudara-saudara kita juga.
Dalam bahasa politik, “tidak ada pertemanan yang abadi”.
Karena itu, berhati-hatilah dalam melangkah dan berhati-hatilah saat bersikap terhadap orang lain. Sekarang teman atau sahabat, esok belum tentu. Sekarang musuh atau lawan, esok juga belum tentu. Waktu sering mengarahkan pada perubahan-perubahan. Bahkan, Rasulallah saw sudah memprediksi dan mewarningnya jauh-jauh hari, untuk selalu bijak dalam membuat keputusan. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk menyelamatkan umatnya dari keterasingan dan kesalahan dalam bergaul.
Kesalahan yang masih membekas di hati, dengan sempat mengungkapkan kekecewaan dan menihilkan keridhaanNya, membuat Barkah terus merenungi langkah-langkahnya di depan. Menerima dengan lapang keputusan atau persoalan apa pun, karena merupakan kebijaksanaanNya semata. Usaha boleh sekuat tenaga. Berikhtiar boleh sebisa-bisanya. Namun bicara hasil atau buah yang bakal dipetik, kembali tergantung keputusanNya. Saatnya, untuk terus bertawakal.
Jangan terlalu larut dengan masalah-masalah duniawi. Jangan berpikir terlalu berlebihan tentang jabatan, kedudukan, posisi, gaji, atau fasilitas. Jangan terlalu berburuk-sangka juga pada atasan atau teman-teman kerja. Tapi, pikiran dan hati terus diarahkan kepadaNya secara total. Saatnyalah merubah akhlak, agar bisa menampilkan citra diri yang bisa menjadi teladan bagi orang lain.
Cobalah bertanya kepada diri kita sendiri dan menjawabnya secara jujur.
Apa yang sebenarnya sedang kita cari?
Kalau arah pertanyaan tersebut tentang jabatan, kedudukan, posisi, atau keinginan mendapatkan fasilitas duniawi, maka alangkah hinanya diri ini. Karena, itu sama artinya dengan memberhalakan dan memuliakan masalah-masalah duniawi. Jabatan atau posisi memang berdampak pada income atau gaji. Termasuk, fasilitas-fasilitas perusahaan. Selain itu, juga akan berdampak pada penghormatan atau aktualisasi diri di tengah masyarakat. Begitu menggiurkan, memang.
Siapa yang tidak ingin kaya? Siapa yang tidak ingin memiliki banyak harta-benda? Siapa yang tidak ingin dihargai? Siapa yang tidak ingin dimuliakan? Pasti semua orang, karyawan di kantor mana pun, memang berkeinginan dan berlomba-lomba memburunya. Tapi, apa hal-hal seperti itu yang menjadi tujuan hidup?
Padahal tanpa itu semua, Allah pun tetap memberikan tempat untuk orang-orang yang mau dekat denganNya. Orang-orang yang taqwa. Banyak contoh tentang orang-orang yang kaya-raya, memiliki jabatan dan posisi terhormat, dan dielu-elukan orang di mana pun, tapi hatinya merana. Hatinya tersiksa. Hatinya justru dipenjarakan oleh keduniawiannya sendiri.
Karena itu, pendapat untuk mengedepankan jabatan, posisi, fasilitas, harta, atau kehormatan, tanpa mengindahkan pemberian yang sesuai porsi dari Nya, jelas keliru. Karena, khawatir, jabatan, harta, dan kehormatan itulah, yang akan membawa kita lari dari Allah. Sungguh malu rasanya, ketika kita ditantang untuk menjawab pertanyaan tentang tujuan hidup, namun sesungguhnya kita termasuk orang yang mendewakan jabatan, harta, dan kehormatan. Naudzubillah.
Tidak cukupkah apa-apa yang telah kita dapat selama ini?
Bagaimana pula menjawab pertanyaan ini, bila kita tidak pernah merasa cukup dengan apa-apa yang kita dapat selama ini. Sungguh, kita termasuk orang yang tidak bisa berterima-kasih. Kita tergolong orang-orang yang tidak bisa bersyukur. Padahal, Allah telah melimpahkan segala-galanya untuk hidup kita. Cobalah menoleh sedikit saja ke samping kanan atau kiri. Bahkan, ke bawah. Perhatikanlah, adakah mereka yang hidup tidak seberuntung kita?
Jawabannya, pasti sangat banyak! Sangat banyak dibandingkan harga burger yang kita beli di foodcourt. Artinya, sesungguhnya kita sudah hidup berlebih. Lebih di atas rata-rata. Jadi, saatnyalah bersyukur dan berterima-kasih.
Tidakkah kita inginkan kemuliaan di alam baqa?
Inilah pertanyaan terberat, yang sulit untuk dijawab.
Ingat kembali cerita raja mukmin dan raja kafir. Ya, meraih kemuliaan seperti sang raja mukmin. Hidup secara sederhana dan apa adanya, serta berbuat banyak kebajikan untuk memanjakanNya, namun memperoleh tempat terhormat di alam abadi nanti. Artinya, keinginan untuk mengiyakan pertanyaan ini sama artinya, dengan terus mengakui adaNya dan kuasaNya. Yakinlah, Allah itu ada dan mengawasi setiap gerak kita. Allah juga begitu berkuasa untuk mengatur segalanya. Terutama, kehidupan makhluk-makhluk ciptaanNya. Karena itu, tidak alasan untuk lepas dari keyakinan tentang adaNya. Inilah pelajaran tauhid pertama yang perlu dirasakan kebenarannya.
Bila adaNya telah kita dapati, maka saatnyalah menjejaki keyakinan tentang kuasaNya. Sesungguhnya, perjalanan hidup manusia dan segala geraknya adalah atas kuasaNya. Perusahaan hanyalah syariat. Boss atau atasan pun syariat, untuk meyakini adaNya dan kuasaNya.
Karena itu, kita harus makin meyakini adaNya. Kita juga harus merasakan kuasaNya. Teruslah mendekatkan diri dengan shalat dan zikir agar adaNya memang terasa. Sehingga, kita tak lagi ragu akan kebenaran dan keagungan kalimat sang kekasih Allah. Bila keraguan itu tak ada lagi, bila keyakinan itu makin menebal, saatnya jugalah kita menikmati kuasaNya. Bukan lagi sebatas obyek, yang terus disuapi nikmat dan hidayahNya. Tapi, jadilah kepanjangan tanganNya. Dengan berbuat kebajikan di segala kehidupan.
Istighfar dan teruslah istighfar. Bertanya lagi pada diri kita tentang tujuan hidup. Akankah jabatan, posisi, dan fasilitas perusahaan, menjadi sasaran kita? Sungguh sayang seribu sayang, bila pada akhirnya akar masalah dan jawabannya hanyalah soal materi. Ya, persoalan duniawi.
Saatnyalah meyakini prinsif kita sendiri. Jangan takut dimusuhi atau tidak memiliki teman. Tentukan posisi, di mana kita akan berdiri? Kita akan menjadi kaum apa? Tentukan pilihan dan rasakan resikonya. Karena, kita kan sadar, setiap keputusan akan berbuah resiko. Saatnyalah membela kata hati kita sendiri, yang sudah kita yakini kebenarannya di lihat dari sudut mana pun.
Dengan begitu, barulah kita bisa berani memutuskan diri, untuk beristiqomah. Memulai hidup baru dengan konsep yang tercerahkan, dengan akhlak yang lebih mulia, dan dengan optimisme yang lebih besar. Tidak lagi memelihara penyakit hati. Tidak ada lagi orang-orang yang musuh atau pesaing. Tidak ada lagi orang-orang yang kita sebut kafir atau munafik.
Tidak mudah mendapati pemimpin laksana Sultan Butuni. Atau sedikitnya, seperti punggawa perahu sandeq. Mereka lahir dan berkembang di taman surga, yang memungkinkan individu-individunya memiliki pribadi-pribadi yang senantiasa bersabar, bersyukur, bertawakal, berzuhud, dan berserah diri. Tapi sebagai insan yang bertekad memuliakan diri ini dan sekeliling kita, maka sudah sepantasnya, perangkat pribadi-pribadi seperti sang Sultan Butuni itu melekat juga di bangunan hati kita.
Sehingga, kalaupun kita belum memiliki kesempatan menjadi pemimpin, tapi kita telah bersiap-siap dengan bekal yang memadai. Kita bisa terlihat sebagai pemimpin, meskipun saat itu posisi kita bukan sebagai pemimpin. Itulah pribadi-pribadi yang kharismatik dan berwibawa. Dengan kenyataan itu, paling tidak kita bisa lebih siap berhadapan dengan siapa pun. Temasuk, atasan kita. Tanpa merasa kecil, rendah, atau tidak berguna.
Tapi, dengan bekal kemampuan dan semangat, serta personal power yang melimpah, sudah pasti, kita hanya tengah berhitung-hitungan dengan waktu. Sejatinya, dengan kemampuan dan semangat itu sendiri, maka kita telah memperlihatkan secara nyata elemen kepatuhan kita terhadap profesi dan perusahaan (jadi bukan dengan atasan semata). Dan, itu jauh lebih mulia, dibandingkan hanya menyajikan semangat dan kepatuhan. Ada pun masalah keberuntungan, kembali berpulang kepada Yang Mahaberkehendak.
Sebagai manusia, kita hanya wajib bersyariat. Sedangkan masalah hakekat, sepenuhnya menjadi hak Allah. Keseimbangan memaknai kewajiban dan hak itulah yang menunjukkan kemuliaan kita yang sesungguhnya. Semoga saja sebagai manusia yang sempurna atau insan kamil. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar