Ki Slamet Gundono adalah dalang ternama dari Tegal, yang mempopulerkan Wayang Suket – wayang yang terbuat dari rumput. Dalam bahasa Jawa, suket berarti “rumput”.
Dengan kreativitasnya, Ki Dalang yang bertubuh tambun itu, memadukan keterampilan mendalang, berteater, dan bermusik, sambil memainkan lakon-lakon pewayangan klasik yang diaktualkan dengan peristiwa nyata. Sehingga, suket yang hakekatnya hanyalah tanaman liar, di tangannya menjelma menjadi wayang-wayang yang memiliki otak dan hati.
Secara harafiah, suket dalam bahasa Jawa berarti rumput alias tanaman liar yang bisa tumbuh di mana saja. Teman abadinya adalah tanah, air, dan siraman cahaya matahari. Ketika tersedia lahan kosong, ketika air dan cahaya matahari membelai benihnya penuh kasih, maka suket pun akan tumbuh dan berkembang sebebas-bebasnya. Bahkan, ketika ada tangan-tangan jahil membabati tubuh kurusnya, maka ia tidak akan pernah kehabisan akal. Ia akan bangkit kembali dan mencoba menjangkau langit.
Ia tidak membutuhkan pot atau vas. Ia tidak membutuhkan rumah-rumah kaca untuk melindunginya. Tempat seburuk apa pun akan menjadi surga baginya. Ia juga tidak peduli tampilannya yang tidak secantik anggrek. Ia tidak peduli tubuhnya tidak segagah pohon jati. Tekadnya hanya satu, ia harus terus memperlihatkan hijaunya. Yang penting, ia harus terus menunjukkan identitas kefloraannya. Sehingga, warna hijaunya mampu memberikan “warna” bagi sekelilingnya.
Lakon demi lakon senantiasa bermunculan dari mulut Ki Slamet Gundono. Namun, hakekat lakon itu sendiri, tetap saja, merupakan buaian moral yang diselimuti pakem pewayangan, musik, nyanyian, dan bebodoran. Ia manfaatkan kehadiran pemusik atau nayaga dan pemain pendukung lain secara maksimal. Sehingga wayang-wayang yang dibuat dari rumput itu “dikawinkan” dengan manusia secara sempurna. Bahkan, ia juga senantiasa memanfaatkan suket sebagai asesoris utama pada topi, pakaian, atau properti pementasan.
Keberanian Ki Slamet Gundono menanamkan “roh” ke dalam suket bukan tanpa sebab. Melalui medium suket, sebenarnya ia tengah bermain-main dengan berbagai tafsiran penokohan. Suket bisa menjelma menjadi sosok apa saja; raja, permaisuri, selir, patih, jenderal, prajurit, punakawan, rakyat jelata, atau tukang becak. Karakter yang ditampilkan juga bisa bijaksana, adil, lalim, garang, lembut, kenes, bahkan gemulai seperti kaum waria. Pokoknya, ia bisa menjadi tokoh protogonis atau antagonis.
Kesan yang dibangun, ia ingin penonton berpikir keras soal hakekat suket yang sebenar-benarnya; suket adalah manusia dan manusia adalah suket. Tidak ada bedanya. Keduanya menyatu dalam satu wadag dan karakter. Semiotik yang ingin diraih melalui berbagai penokohan itu mengarah pada hakekat suket itu sendiri; tanaman liar yang semula dianggap tidak berguna, ternyata setelah berganti rupa dan memiliki “roh” menjadi sangat-sangat berguna. Karena, ia tidak lagi sekedar rumput ilalang. Pada akhirnya, harus diyakini seyakin-yakinnya bahwa kebanyakan dari kita adalah suket!
Di luar kreativitasnya “mengutak-atik” suket sebagai kesenian tradisional, Ki Slamet Gundono pun paham betul akan pesan-pesan tersirat dari setiap suketnya. Dari ayunan dan sabetan tangannya, ia ingin menegaskan bahwa suket adalah pesan-pesan sederhana yang bisa menjelma menjadi mutiara. Namun mutiara itu bisa didapat, jika penikmat Wayang Suket tersebut memiliki kecerdasan dan kejernihan hati!
Suket adalah perlambang kesabaran. Dengan hakekatnya yang selalu di bawah dan kerap dianggap tanaman liar, ternyata ia tetap sabar untuk menyambut embun di pagi hari. Ia tetap ceria menerima hangat matahari. Dan, ia juga tetap pasrah, meski tubuhnya diinjaki oleh makhluk atau benda di atasnya. Niatnya hanya satu, terus tumbuh dan berkembang.
Ia tidak pedulikan di sekitarnya muncul anggrek yang semakin berkilau karena dirawat oleh pemiliknya. Karena ia percaya, anggrek tetaplah anggrek. Hakekatnya adalah tanaman benalu. Ia juga tidak pedulikan pohon jati. Karena, kodrat memang membentuknya menjadi pohon terperkasa. Kesederhanaan raga membuatnya harus sadar bahwa ia memang di bawah keperkasaan sang pohon jati.
Buah kesabaran itu adalah rasa syukur nan terhingga atas limpahan rahmat dan hidayahNya. Suket merasa bersyukur. Karena, dengan keterbatasannya, ia masih mandapat belaian embun dan hangat matahari pagi. Dengan kesederhanaan fisiknya, ia begitu mudah untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Artinya, Yang Mahamengatur memang melimpahkan perlindungan dan perawatan nan tak terkira untuk kelangsungan tumbuh dan kembangnya.
Bila pada manusia, Allah swt memperlihatkan kasih sayangNya itu dengan memfungsikan organ tubuh dan perawatannya yang maksimal. Manusia tidak perlu berpikir soal biaya atau tagihan yang harus dilunasi atas pemberdayaan seluruh fungsi tubuh itu. Namun, manusia hanya diminta untuk menjaga dan merawatnya, serta mensyukuri seluruh anugerah nikmat itu.
Buah dari sabar dan syukur tersebut, suket akan selalu bergairah untuk memulai hari-harinya. Tidak ada istilah putus asa dan lelah menapaki hidup dan cobaan. Tapi, ia terus tersenyum dan melantunkan rasa syukur atas anugerah menyambut pagi. Karena, itu sama artinya, Tuhan merestui langkahnya untuk mengisi hari itu dengan segala kebajikan.
Hakekat lain dari tanaman liar tersebut adalah keikhlasan. Ia ikhlas menerima kodratnya sebagai tumbuhan rendahan. Ia ikhlas dengan predikatnya yang identik dengan kekumuhan dan ketidakteraturan. Ia juga ikhlas terus-menerus menerima terpaan alam dengan panas atau hujan. Ia tidak serta merta menjadi lunak laksana wortel yang digodok di dalam wajan berisi air panas. Ia juga tidak dengan otomatis menjadi keras laksana telur yang direbus di dalam wajan. Ia tetap rangkaian rumput, yang berkeinginan menghijaukan sekelilingnya dengan penuh keikhlasan. Prinsifnya adalah memberi dan terus memberi, tanpa berpikir soal pamrih.
Pada tahap tersebut, suket telah memperlihatkan hakekat tawakalnya secara sempurna. Ia berbuat tanpa berpikir pamrih. Tapi, semuanya dilakukan atas nama keridhaan dan keikhlasan. Karena itu, jika dikaitkan dengan hasil atau imbalan, maka ia pun memasrahkannya kepada Yang Mahamemberi. Singkatnya, ia telah berhasil melampaui tahapan be yourself dan know yourself – tahapan “menjadi diri sendiri” dan “mengenal diri sendiri”. Ia memang telah menjelma menjadi sosok yang “ingin selalu memberi” atau berada dalam tahapan give yourself.
Dalam terminologi psikologi, khususnya menyangkut pengenalan potensi diri, dikenal tiga tahapan itu. Be yourself adalah tahapan awal seseorang untuk menjadi diri sendiri. Tahapan ini menuntutnya untuk berjuang memahami keberadaan dirinya atau aktualisasi, lalu membangun keyakinan tentang keberadaan dirinya itu. Diri pribadi yang mandiri, yang tidak tergerus pengaruh, yang tidak tergoda menjadi orang lain, apalagi mengekor nama besar orang lain. Ia tidak merasa kecil karena keterbatasannya. Ia tidak rendah hati dengan kekurangannya. Karena, ia merasa yakin, ia akan menjadi “seseorang” dengan menjadi dirinya sendiri itu.
Keyakinan yang telah terbangun itu, pada akhirnya akan mengarahkan diri untuk makin mengenal diri pribadi yang sesungguhnya. Know yourself. Siapa sesungguhnya diri ini? Bagaimana plus-minus yang ada di dalamnya? Atau, apa kelebihan dan kekurangannya? Bagaimana potensi untuk berkembang dan menapaki seluruh kehidupan ini? Sesungguhnya, yang paling mengetahui diri pribadi itu adalah kita sendiri dan Yang Mahapencipta. Karena itu, kejujuran pikiran dan kejernihan hati akan menghadirkan jawaban terampuh untuk mempertanyakan diri kita yang sesungguhnya.
Puncak dari pembangunan identitas untuk menjadi diri sendiri dan memahami diri pribadi itu sendiri adalah give yourself. Saatnya untuk berbagi. Senantiasa berbagi. Kebajikan dan segala kebajikan. Diri pribadi yang sudah terbangun dan tercerahkan memberikan kesadaran baru bahwa ia adalah kepanjangan tanganNya. Ia adalah utusanNya untuk menebar kasih sayang sebagai pengejewantahan sifat rahman dan rahimNya.
Meskipun terminologi Ilmu Psikologi dan Ilmu Tasawuf terbentang jarak nan begitu luas, ternyata bukan hal yang mustahil bila keduanya “dikawinkan”. Ingat keberanian Ki Slamet Gundono yang “mengawinkan” suket dan para nayaga. Karena, Ilmu Tasawuf pun mengenal konsep tahapan membangun potensi diri pribadi tersebut – namun konteksnya mengarah pada penyaksian atau berma’rifat. Yakni, konsep tahali – takhali – tajjali. Sehingga, bukan secara kebetulan, bila “perkawinan” mengarah pula pada proses pembangunan diri pribadi yang lebih sempurna. Bukan sekedar upaya menggapai impian “menjadi” hingga “berbagi”. Tapi, arahnya lebihu dasyat, manusia biasa menjadi manusia sempurna atau insan kamil!
Proses takhali adalah upaya pembersihan diri atau penyucian hati dari segala rongrongan hawa nafsu duniawi, akhlak yang jauh dari kemuliaan, dan ibadah yang tidak sempurna. Di tahap ini, sang Salik harus berjuang menempuh padang tandus pengendalian hawa nafsu atau duniawi sambil menyelami samudera ibadah. Tahapan ini membimbingnya untuk menjalani kehidupan wara dan zuhud.
Bila wara dimaksudkan sebagai upaya menjaga prilaku, sikap, dan ucapan, agar senantiasa terjaga kesuciannya, maka zuhud dimaksudkan untuk menjaga diri pribadi yang bertekad bersih dari segala hawa nafsu duniawi. Intinya adalah pengendalian diri dan tekad untuk menjadi bersih atau suci. Sehingga, segeralah akan lahir diri pribadi baru yang tercerahkan. Inilah buah pembangunan be yourself tersebut!
Meski hanya satu kata yang mesti dilalui, takhali, ternyata tidak semudah itu proses tersebut terlewati. Karena, proses itu akan memperkenalkan sang Salik pada maqom-maqom (stasiun-stasiun spiritual); tobat, sabar, syukur, ikhlas, ridha, dan tawakal.
Bila tahap pertama telah terlewati, maka saatnyalah bagi sang Salik untuk mengisi pikiran dan hati yang telah bersih itu, dengan menanam jutaan pohon ibadah, menyiraminya dengan beningnya air zikir, dan terus memagarinya dengan istiqomah wara dan zuhud yang terus-menerus. Proses tahali, maksudnya.
Tahapan ini bukanlah sekedar memaksimalkan kuantitas dan kualitas ibadah dan zikir, serta disiplin menjalani kehidupan wara dan zuhud, tapi ia dibimbing untuk makin mengenal diri pribadinya. Sabda Baginda Rasulallah saw, “Barang siapa mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya.” Jadi, siapa saja sudah memetik ranumnya buah tahapan know yourself, maka ia pun akan mengetahui Diri Pribadi yang sesungguhnya, Dzat Mahasempurna yang menciptakan diri pribadi Sang Salik tersebut.
Bersamaan dengan itu, tantangan-tantangan maqom yang telah dilewati tadi pun akan semakin meninggi. Ujian demi ujian maqomat akan terus menghadang. Tingkat kesulitan yang meninggi itu seirama dengan hadits Baginda Rasulallah saw, “Barangsiapa ingin mencintaiku maka bersiap-siaplah untuk miskin, dan barangsiapa ingin mencintai Allah maka bersiap-siaplah menerima ujian”.
Pada hakekatnya, perjalanan sang Salik adalah menggapai cinta kepada Rasulallah saw dan Allah swt. Maka, wajar saja, bila hadangan seperti yang disebutkan dalam hadits itu yang bakal diterima. Pada tahapan tahali tersebut, sang Salik dituntut untuk menjalani maqom taslim dan fana.
Puncak dari perjalanan spiritual itu adalah tajjali atau penyaksian akan adaNya dan kuasaNya. Penyaksian itu bukan sekedar melalui simbol-simbol khusus yang didapat melalui ritual tertentu – lazimnya dilakukan melalui praktik ibadah secara tarekat – tapi juga melalui simbol-simbol pengejewantahaan sifat dan af’alNya melalui manusia. Dengan begitu, diri yang telah menjadi diri pribadinya sendiri dan mengenal diri pribadinya itu akan merasa bagian penting dariNya. Ya, manusia yang merupakan kepanjangan tanganNya, manusia yang merupakan pilihanNya, manusia yang merupakan utusanNya, manusia yang merupakan wakilNya, untuk berbuat terus kebajikan untuk manusia lain semata-mata karena Allah swt.
Pada tahap ini, Sang Salik telah memasuki maqom mahabbah (menjalin cinta dengan Yang Mahamencintai). Maqomat ini adalah buah teranum dari seluruh perjalanan maqom demi maqom tadi.
Dalam kehidupan nyata, suket bisa kita tafsirkan menjadi siapa saja. Tapi, pengertian umum membatasi tafsiran itu hanya sebatas pada rakyat kebanyakan atau wong cilik. Perhatikan saja, ketika kita mendengar istilah “akar-rumput”. Pastinya yang dimaksud adalah kaum kawula atau rakyat jelata, dan bukan kaum gusti. Sehingga, kita tidak bisa menceritakan raja atau presiden dengan simbol suket. Sebaliknya, bila yang dimaksudkan adalah pedagang asongan, maka bisa diwakili dengan perlambang kaum akar rumput.
Suket juga bisa menjadi simbol para pekerja yang nasibnya belum atau tidak beruntung. Mereka memang tercatat sebagai karyawan, tapi sesungguhnya mereka pengangguran terselubung. Sesungguhnya mereka memiliki keterampilan dan menjunjung makna profesionalisme, tapi tetap saja dipinggirkan atau dimarginalkan. Tidak memiliki kesempatan meraih posisi terhormat, tidak mendapat kesempatan mendapat gaji yang lebih besar, tidak mendapatkan bonus dan kenaikan gaji yang memadai, dan banyak lagi bentuk-bentuk “penindasan” ketenagakerjaan.
Mereka ada di mana-mana. Baik di perusahaan pemerintah maupun di perusahaan swasta. Baik di perusahaan mapan maupun perusahaan yang sedang kembang-kempis. Bahkan, gedung-gedung mewah yang menjadi basis perusahaan-perusahaan ternama pun tidak malu-malu “memelihara” kalangan “suket” itu. Kerap beberapa di antaranya memegang posisi penting, gaji nan dasyat, plus berbagai fasilitas. Tapi siapa nyana, bila beberapa di antara tak lebih dari pengangguran terselubung. Maka, bagaimana pula nasib kaum “suket” dengan pangkat rendah?
Di setiap lingkungan, pastinya ada yang menjadi pohon jati, anggrek, dan juga rumput. Silahkan saja menebak-nebak, kita menjadi bagian dari kelompok apa. Malah jangan-jangan, kita termasuk dalam kelompok “rumput”? Dengan bentuk pekerjaan dan situasi perusahaan yang berbeda, tentunya.
Meskipun demikian, jangan pernah berkecil hati, bila saat ini kita termasuk dalam komunitas “suket”. Jangan pernah kita merasa kecewa, frustrasi, apalagi apatis, hanya karena kita tidak mendapat posisi mulia di lingkungan kitu.
Jangan pernah berpikir menjadi anggrek, melati, mawar, apalagi pohon jati. Biarlah kita tetap menjadi rumput. Suket diperhitungkan oleh tumbuhan lain karena daya tahannya, keteguhannya, kesungguhannya, ketabahannya, dan juga kepasarahannya. Karena itu, ia bisa hidup dan berkembang dalam kondisi apa saja.
Di lapangan golf atau sepakbola, rumput mendapat tempat terhormat. Bahkan, dalam film anak-anak “Teletubbis”, rumputlah yang membangun keindahan tempat bermain Windy dan kawan-kawan. Artinya, masih ada porsi mulia untuk para suket.
Menikmati nyanyian suket, yang setiap pagi disentuh embun dan cahaya matahari pagi, sama artinya dengan meresepi hakekat demi hakekat sang Suket. Tanpa ragu, ia perlihatkan terus daya tahan, keteguhan, kesungguhan, ketabahan, dan kepasrahan. Dan di balik itu semua, tersimpan “magma” tobat, sabar, syukur, ikhlas, ridha, dan tawakal.
Dengan kesederhanaanya, suket mengajarkan makna cinta yang sebenarnya, yakni memberi. Memberi tanpa berharap pamrih. Give yourself – peringkat tertinggi setelah be yourself dan know yourself. Kita mencintai, maka kita memberi. Kita tidak mempedulikan dampak, tapi ikhlas saja menyerahkan. Kita mencintai dengan alasan “walaupun” bukan “karena”. Cinta yang didasarkan “walaupun” bersandar pada keinginan memberi dan keikhlasan. Sebaliknya, bila didasarkan “karena”, maka pamrih atau imbalanlah yang berada di belakangnya.
Suket mengajarkan filosofi cinta begitu sederhana. Tanpa keruwuten dan membuat dahi mengkerut. Tapi, bergulir saja apa adanya. Dengan kesederhanaan dan kejujuran. Tanpa berpikir kepada siapa, kapan, di mana, dan bagaimana. Bandingkan dengan manusia yang harus melewati tahap-tahap pembelajaran yang rumit untuk memahami arti cinta.
Saat Tuhan merasa bahwa mencintai orangtua atau saudara belum cukup untuk mengingatkan seseorang tentang makna cinta, maka ia pun diajarkan mencintai lawan jenis. Tahap berikutnya, ia pun dianugerahi nafsu atau syahwat agar makin yakin soal hakekat cinta dan arah SOSOK yang harus dicinta.
Bila hal itu belum juga menyentuh, maka ia pun dibimbing untuk mencintai buah hati – anak atau cucu. Dengan begitu, ia berkenan membagikan cintanya kepada setiap orang laksana sang Suket.
Cinta sama artinya dengan kebajikan. Kebajikan sama artinya dengan pelimpahan cinta yang hakiki untuk Yang Mahamencintai. Tapi, berapa lama kita bisa menelan pelajaran cinta itu dan menjalankannya dengan keikhlasan seperti sang Suket memperlihatkan cintanya kepada Yang Mahapencipta?
Perlunya mengetahui cerita tentang rerumputan, karena kita membutuhkan saranan refleksi-diri atas segala gerak kehidupan kita. Terlebih lagi, mereka-mereka yang saat ini masih menjadi seonggok “suket”. Entah karena belum mendapat kesempatan untuk “naik kelas” atau lantaran terkena “degradasi” seperti dalam kompetisi sepakbola. Plus, dengan ragam persoalan dan alasannya.
Tapi, kita tidak boleh berdiam-diri dan membiarkan jarak membentang jauh meninggalkan kita. Hingga, kita pun jadi merasa terkucil di tengah gemerlapnya pesta. Sebaliknya, bangun kembali semangat dan optimisme, untuk menghijaukan sekeliling kita. Cobalah ikuti nyanyian sang Suket. Bernyanyilah bersamanya dengan kelapangan pikiran dan kejernihan hati. Tapaki kehidupan baru dengan lebih bergairah. Sehingga, masa depan yang lebih cerah bisa songsong dengan penuh kegemilangan. []
NOTE:
Artikel di atas merupakan petikan dari buku “SUKET – Kisah-kisah Inspiratif Menuju Ma’rifat”, sekaligus sebagai pengantar pada sembilan kisah inspiratif yang disajikan dalam buku tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar