Pulau Buton di sebelah Tenggara Pulau Sulawesi bukan hanya aspal dan keindahan alam. Namun, bila kita menyusuri catatan masa silam, mereka memiliki cerita tentang kejayaan Kesultanan Butuni – pemerintahan ala Islam dan menjadi sentral penyebaran Islam di wilayah Timur Indonesia.
Kesultanan Butuni memiliki momen itu, bukan karena pulaunya yang menjadi tempat pelabuan persinggahan kapal-kapal laut, yang hilir-mudik dari Barat ke Timur atau dari Timur ke Barat. Tapi, karena mereka memiliki dasar pengenalan Islam yang kuat. Sejak Syekh Sayid Abdul Wahid al-Fathani mengislamkan Raja ke-6 Buton, Lakilaponto, maka bentuk pemerintahan pun berubah; dari kerajaan menjadi kesultanan. Sang raja pun berganti nama dari Lakilapotan menjadi Muhammad Isa Kaimuddin, dan mendapat gelar Murhum (pewaris dan penerus ajaran Ahlul Bait) dan Khalifatul (wakil Allah di muka bumi yang biasa disematkan pada seseorang yang telah mencapai tingkatan Waliyullah). Dua gelar yang didapat Sang Sultan menjadi pembuktian, Islam masuk dan berkembang di Pulau Buton bukanlah Islam di tingkat syariah, namun sudah pada tingkat tarekat!
Pengaruh keislaman ala Syekh Sayid Abdul Wahid al-Fathani itu, pada akhirnya juga berpengaruh pada proses pemilihan pemimpin pemerintahan, agama, dan adat. Di Kesultanan Butuni, selain Sultan juga dikenal Sultan Batin – pemimpin rohani. Lalu, ada juga sejumlah perangkat adat yang memiliki pengaruh kuat bagi pemerintahan.
Sultan di Kesultanan Butuni tidak mesti putra mahkota atau pangeran. Namun, ia adalah keturunan para sultan terdahulu atau tingkat di bawahnya, yang telah dinominasikan sejak ia kecil. Maka, para nominator itu pun mendapat pengawasan dari para anggota Patalimbona (semacam DPR) – untuk melihat perkembangan wawasan dan akhlaknya. Masalah akhlak memang menjadi perhatian penuh. Mereka sangat berharap mendapat pimpinan yang bersih dan berbudi luhur. Misalnya, bila di masa remaja, sang calon sultan terlihat di belakang gadis apalagi hingga menggodanya, maka gugurlah pencalonan itu (diinspirasi cerita masa lajang Nabi Musa AS yang harus di depan calon istrinya).
Bila waktunya tiba, maka para anggota Patalimbona akan bermusyawarah dan memilih Sultan Butuni yang baru, atas pertimbangan catatan masa kecil hingga remaja, dan bermunajat langsung ke Allah SWT. Cara terakhir ini, tentu saja menjadi penentu soal suktan yang akan dipilih. Mereka yakin, keputusan tersebut haruslah petunjuk langsung dari Yang Mahamewakili (Al-Wali) melalui wahyuNya.
Begitu rumitnya pemilihan pemimpin pemerintahan di Kesultanan Butuni, karena mereka yakin; makmur dan hancurnya negeri karena pemimpinnya. Maka, hanya seseorang yang wawasan dan akhlaknya teruji yang layak menjadi pemimpinnya. Karena itu, Sang Sultan bertanggung jawab atas kondisi lahiriah dan batiniah warganya. Subhanallah.
Proses itu mengingatkan saya akan pendapat seorang sufi kharismatik di abad ke-1, Al-Hafidz Abu ‘Abdullah Muhammad atau lebih dikenal dengan nama Ibnu al-Qayyim al-Jauzy (semoga Allah SWT melimpahkan rahmatNya). Menurutnya, “Ketika seorang laki-laki mengikuti seorang laki-laki, maka lihatlah apakah dia adalah termasuk ahli dzikir atau termasuk golongan lalai, dan apakah hakimnya adalah hawa nafsu atau wahyu? Jika hakimnya adalah hawa nafsu, dia adalah golongan yang lalai, maka perintahnya harus diabaikan…”. [“Cetak Biru Tasawuf”, Syeikh Abdul Qadir Isa, 2007]
Pendapat tersebut memberikan petunjuk; pertama, pemimpin haruslah dari kaum laki-laki. Persepektif kepemimpinan Islam memang cenderung tidak berpihak pada kaum hawa. Ada berbagai pertimbangan berdasarkan Ilmu Fiqih. Namun, saya tidak akan membahasnya di halaman ini. Biarlah catatan di bagian ini menjadi kritik kaum feminis, atau bakal jadi dibilang anti-gender(?)
Kedua, ia menegaskan pijakan pemilihan pada kedekatan terhadap Yang Maharaja (Al-Malik), dengan melihat frekuensi dzikir. Pada kalangan ahli tasawuf, dzikir merupakan seremoni wajib sebagai metode ma’rifat bahkan bemuhabah dengan Allah SWT. Bukan sekedar melihat dan mengenal percikan cahayaNya, namun ia benar-benar bercengkerama dalam suasana cinta dengan Yang Mahamemuliakan (Al-Muizz). Subhanallah.
Dengan demikian, seseorang yang dianggap lalai terhadap Tuhannya, agamanya, akidahnya, maka sangat tidak layak menjadi pemimpin. Karena, sangatlah sulit bagi seseorang untuk membuat keputusan adil dan bijaksana, bila hati dan pikirannya masih lalai. Terlebih, bila ia tidak memiliki pijakan kedekatan dengan Sang Mahamandiri (Al-Qoyyum), memahami syariat agama dengan baik, dan akhlak yang mumpuni. Maka, keputusannya adalah kesembronoan dan kepanikan!
Ketiga, ia melihat pada hakimnya, hawa nafsu atau wahyu? Konteks ini merupakan lanjutan dari sikap yang senantiasa berdzikir. Pemimpin yang rajin berdzikir, ia akan senantiasa dianugrahi ketajaman mata-batin atau matahati atau fawaid, untuk menangkap segala masalah dengan jelas. Tidak ada rasa grasa-grusu, terkaget-kaget, apalagi panik. Dulu, kita yakin hanya para nabi dan rasul yang bisa memperoleh wahyu. Betul, bila yang dimaksudkan wahyu yang ditujukan bagi umat. Tapi, wahyu untuk diri-pribadi?
Para sufi dan ahli tasawuf sangat yakin, dzikir dan upaya untuk terus merapatkan diri dan hati pada Yang Mahabijaksana (Al-Hakim), akan membuahkan wahyu. Dan. Wahyu itulah yang menjadi informasi untuk setiap masalah yang terjadi di sekitar kita. Hebat.
Maka, bila kita dapati pemimpin kita masih menyandarkan keputusannya pada informasi orang, maka yang terjadi adalah like and dislike, pembunuhan karakter, dan ancur-ancuran! Karena, hakimnya, ya hawa nafsu! Selama, thogut yang memagang kendali, bagaimana bisa menghasilkan keputusan yang bijak?! Kalau sudah tidak bijak, bagaimana juga bisa mencapai target seperti yang direncanakan? Efek dominonya begitu terlihat.
Konsep berpikir nan demikian berat mengingatkan saya pada catatan kecil saya, usai membaca buku “Rahasia Sepuluh Malam” [Achmad Chohim, 2006]. Uraian tentang malam ke delapan atau maqom tawakal menggambarkan komposisi ideal seorang pemimpin; 40% tingkat kecerdasan (IQ) dan 60% tingkat emosional (EQ). Tingkat kecerdasan menyangkut skill profesi, wawasan kepemimpinan, dan pengetahuan umum lainnya. Sedangkan, tingkat emosional menyangkut hati dan rasa. Tidak lagi hapalan ilmu dari bangku sekolah.
Bila komposisi itu terbalik, maka kita akan dapati pemimpin yang hanya memperlakukan bawahan sebagai robot, buruh, kawula, dan kalangan sudra. Ia tidak akan pernah mempertimbangkan segi-segi lain, selain pekerjaan, aturan-aturan, dan hasil. Bayangkan, bila skill profesi sang pemimpin belum seberapa? Maka, hasilnya adalah kualitas pekerjaan itu hanya sebatas kemampuan sang pemimpin. Padahal, dalam manajemen modern, staf atau bawahan kerap memiliki skill profesi yang lebih tinggi. Sayang kan bila hal itu diabaikan hanya karena ego?!
Namun, bila komposisi yang terjadi sesuai konsepnya pak Chojim, maka pertimbangan hati dan rasa akan jadi dominant. Urusan skill biarlah sepenuhnya urusan bawahan. Karena ia percaya, ia memiliki staf atau bawahan bukanlah kuli, kawula, atau budak. Tapi, ya memang orang-orang ahli dan terampil! Bila sang pemimpin memiliki skill profesi yang sangat mumpuni, justru ia hanya perlu membuat pola, alur kerja, dan pengjawatahan tugas yang pas pada orang-orangnya. Jadi, bukan one man show! Di konsep kepemimpinan Rasulallah saja – itu di abad jahiliah dan ia tergolong adimanusia – hal itu tidak terjadi. Tidak ada kan manusia super?
Menarik juga bila kita susuri pendapat AA Gymnastiar dengan konsep ESQnya. Bayangkan bila komposisi itu kita racik demikian: 20% IQ : 30% EQ : 30% SQ. Artinya, ada peluru tambahan bernama spiritual, yang melengkapi kekayaan emotional. Maka, hati dan rasa itu makin berwarna-warni dan obyektif.
Keputusan atau kebijakan akan menjadi mutiara bagi bawahan. Mereka akan merasa sebagai asset, bukan kuli, buruh, budak, kawula, atau kaum sudra. Mereka akan merasa mendapat perlindungan, ayoman, dan masa depan dari sang pemimpin. Hukuman atau teguran jadi air sejuk, ketika bawahan merasa salah atau membuat khilaf. Subhanallah.
Uraian lebih jauh konsep akhlak pemimpin pada maqom tawakal adalah tentang pribadi-pribadi nan lemah lembut, memaafkan, memohonkan perlindungan, bermusyawarah, dan bertawakal. Pribadi nan lemah lembut, karena ia senantiasa bertaburkan energi dzikir yang mengingatkannya pada sifat Rahman (pengasih) dan Rahim (penyayang) Sang Mahaluas (Al-Wasi). Maka, ia akan senantiasa menebarkan aura kasih sayah kepada siapapun. Terlebih kepada bawahannya – orang-orang yang memang berjuang penuh untuk target pencapaian kepemimpinannya. Sebaliknya, ia bukan justru menjadi sombong, arogan, bahkan jijik melihat bawahan. Sehingga, ketika bertemu pun ia berusaha melengos dan menghindari bertatap-mata. SMS dan internet kerap bukan medium komunikasi yang efektif antara atasan bawahan. Tapi, face to face communication sudah terbukti bisa membuka tali silaturahmi dan mempercepat pengambilan solusi.
Pribadi nan memaafkan, karena ia percaya ada segi-segi kemanusiaan yang tersembunyi dalam pikiran dan hati bawahan. Kesalahan dan kekhilapan bisa terjadi pada siapapun. Namun, bagaimana seorang pemimpimpin dengan mata-batinnya bisa menemukan, dan mengembalikan citra diri orang tersebut ke tempat yang sebenarnya. Hukuman kerap hanya kan mendidik penjahat-penjahat baru. Namun, tidak membuat urusan kemanusiaan menjadi terpecahkan.
Imam Al-Ghazali (semoga Allah SWT memuliakannya) secara bijaksana menyebut seseorang yang terkena salah, khilaf, atau masalah, sebagai orang yang sedang mendapat teguran Yang Mahamencipta (Al-Khalik). Katanya, Allah sedang meminta orang tersebut kembali mencari cahayaNya dan bersiap-siap mempertajam matahati, agar ia mendapatkan jalan lurusnya. Mahasuci , Gusti Allah.
Dengan pribadi nan lemah lembut dan memaafkan, ia sebenarnya jadi ikut berperan untuk menata akhlak bawahannya sendiri. Tanpa sadar, af’al Yang Mahamembuka (Al Fatah) ikut membukakan jalan, agar sang bawahan kembali menjadi baik dan berjalan di garisNya. Sekali lagi, mata-batinlah yang harus dimiliki dan dipertajam. Bukan naluri berkuasa atau otoriter. Itu mah kuno!
Pribadi nan memohonkan perlindungan, karena ia juga senantiasa shalat, berdzjikir, dan bermuhabah. Ia menjadi merasa perlu dan haus untuk mendekatkan diri pada Allah SWT, karena para bawahannya perlu mendapatkan juga petunjuk dan kekuatan untuk mengabdi terus kepadaNya dan juga bekerja giat. Ia berdoa agar tidak kesalahan yang dibuat oleh bawahan di tingkat manapun. Dengan begitu, tangannya akan menjadi berat untuk menjatuhkan sanksi atau hukuman. Namun, belaian halus di pundak bawahan barangkali bisa menjadi hukuman yang sangat menyiksa bagi bawahan yang bersalah.
Musyawarah menjadi arena untuk mendapat keputusan terbaik, dan bukan arena monolog dan pamer kepintaran. Tapi, target malah jelas. Namun, dengan muswarah, keinginan menyatukan lidi dalah ikatan sapu, dipastikan akan memberikan kekuatan dan kemampuan dasyat.
Dengan begitu, ia pun memiliki pribabdi dan berazam dan bertawakal – menyiapkan bahan, rancangan, dan perencanaan matang di setiap langkahnya. Inilah profesionalisme! Soal hasil, segeralah bertawakal kepada Allah. Karena, di luar rencana kita, ada Tuhan Yang Mahaberkehendak.
Cerita ideal pemimpin ala pak Chojim itu memang dimasukkan pada maqom tawakal. Artinya, setelah seseorang melewati tujuh maqom lainnya; tobat, sabar, syukur, zuhud (mengatur jarak dengan persoalan duniwi), rido, ikhlas, dan taslim (berserah diri). Jadi, olahan hati dan rasa dengan carai berthakalli (membersihkan hati dan rasa dari hal-hal negatif) dan bertahalli (mengisi hati dan rasa dengan amal-ibadah nan khusu) sangat dibutuhkan. Puncaknya, ia mampu bertajalli (ma’rifat dan senantiasa menjalin cinta dengan Yang Mahaindah – Al-Jamal).
Kita kembali ke soal pemilihan pemimpin di Kesultanan Butuni di masa silam. Bila proses pemilihan pemimpin sudah dicapai, persoalan itu tidak selesai dengan sendirinya. Sutan Batin, Patalimbona dan petugas kesultanan lain, akan terus mengawasi kebijakan dan akhlak Sang Sultan dan kondisi di tengah masyarakat. Bila terbukti ada kekeliruan atau masyarakat yang masih menderita, maka Sang Sultan bisa dilengserkan. Bahkan, bila ia membuat kesalahan dan melanggar syariat Islam, maka ia pun bisa dihukum. Termasuk, hukum gantung!
Ketatnya pengawasan ini, bukan cuma terjadi pada Sang Sultan. Tapi, Sultan Batin, Lakina Agama, Patalimbona, hingga petugas masjid, juga harus menjaga kebersihan diri dan hatinya. Bahkan, bila mereka lupa membawa tongkat – simbol kepemimpian di Pulau Buton – mereka bias dipecat! Ini adalah gambaran disiplin dan tanggung jawab. Bila tongkat amanah saja lupa dibawa, bagaimana dengan beban amanah yang disandangnya?
Di Pulau Buton – hingga sekarang – setiap pemimpin di tingkat apapun, biasanya akan melakukan sujud syukur kepada Illahi Robbi, bila masa kepemimpinannya berakhir. Jadi, berbeda dengan di tempat lain, yang biasanya bersujud-syukur saat ia dipilih menjadi pemimpin. Mereka yakin, dipilih menjadi pemimpin merupakan amanah dan harus memikul tanggung jawab yang besar, dunia dan akhirat. Maka, yang pantas mereka lakukan ketika diminta untuk memimpin, hanya memohon ampun kepada Yang Mahamengawasi (Al-Raqib), bermunajat memohon petunjukNya, dan senantiasa berharap agar diarahkan olehNya untuk menapaki jalan lurus.
Pemikiran tentang pertanggungjawaban ini mengingatkan saya firman Allah SWT, ”Setiap dari kamu adalah pemimpin dan Allah akan meminta pertanggungjawaban atas kepemimpinanmu.” Sehingga, amanah menjadi sultan, pimpinan pemerintah, atau pimpinan di tingkat apapun, pada akhirnya harus berurusan dengan Sang Penguasa Seru Sekalian Alam. Tidak sekedar terhadap Patalimbona, DPR, komisaris, direktur, atau menejer. Terlalu sederhana dan hanya duniawi semata. Namun, Allah juga akan mempertanyakan masalah-masalah itu di hari kelak.
Persoalan tanggungjawab sebagai pemimpin ini, sebenarnya tidak mesti harus berurusan dengan posisi atau jabatan. Di tingkat diri-pribadi, setiap dari kita sebenarnya adalah pemimpin. Dalam konsep kepemimpinan di Jawa dan Sunda dikenal istilah “sadulur papat kalina pancer”. Artinya, sebenarnya setiap dari kita memiliki empat saudara kembar yang dibawa sejak dalam kandungan ibunda, dan terus mengawal hingga dewasa dan memasuki ajal.
Dalam “Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga”, Achmad Chojim menuliskan keempat saudara kembar itu sebagai malaikat Jibril, Mikail, Isrofil, dan Izroil. Keempatnya, mengisi ketuban, ari-ari, tali pusar, dan darah. Mereka mengawal sang jabang bayi hingga lahir ke bumi. Dan, mereka tentu menjadi bagian dari sang jabang bayi. Ya, sebagai bawahannya.
Setelah dewasa, sebuah kitab kuno berbahasa Sunda, “Serat Syekh Abdul Jabbar” menuturkan peranan keempat saudara kembar kita itu. Malaikat Jibril mengawal mulut, malaikat Mikail menjaga mata, malaikat Isrofil mengawasi telinga, dan malaikat Izroil bermukim di alat pernafasan atau penciuman. Keberadaan keempat saudara kembar itu, bisa dibuktikan soal pewahyuan firman-firman Allah kepada Rasulallah Muhammad melalui mulut Jibril. Mata yang mudah berlinang air mata ketika merasakan sesuatu, persis dengan tugas Mikail yang menurunkan hujan. Pendengaran kerap mendengar desing aneh saat pohon kematian tersentuh daun kematian seseorang – dihubungkan dengan tugas Isrofil meniup sangkakala di hari akhir. Saat pernafasan berhenti, maka kematianlah jawabannya – ini kan tugas Izroil yang mencabut nyawa.
Karena itu, pada akhirnya, keempat “bawahan” kita itu pun akan menuntut kebijakan perbuatan, pikiran, hati, dan rasa, tuannya. Sehingga, manusia pun dituntut untuk selalu bersikap bijak menggunakan panca indera dan jasmaninya. Karena, manusia memang sudah dikodratkan sebagai pemimpin. Minimal atas keempat ssaudara kembarnya. Sedangkan, saudara kembar yang kelima (kan “sadulur papat kalima pancer”), adalah yang disebut rasa. Ini bagian dari tubuh yang sangat abstrak, tapi perannya vital sekali. Semua sendi kehidupan berhubungan erat dengannya. Kelak, saudara kembar yang kelima ini menuntut porsi pertanggungjawaban yang paling besar.
Mohon maaf bila uraian di atas mengganggu dan membuat hati jadi tak enak. Ini sekedar catatan perjalanan dan buah belajar pada Orang Buton. Maksud hati, sekedar berwasiat tentang kesabaran dan kebenaran – seperti amanah Rasulallah. Mahabenar Allah dengan segala firmanNya. Salawat pun senantiasa ditujukan kepada Rasulallah, sahabatnya, keluarganya, ahli rumahtangganya, para ahli silsilah tarekat, dan para salik. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar