Juli 03, 2008
Juni 27, 2008
MANUSIA dan KEPEMIMPINAN (2)
Ini cerita lucu-lucuan di lingkungan kantor. Isinya memang jauh dari kesan cerdas. Tapi, bila dikaji lebih dalam, tetap ada pelajaran yang bisa diambil. Intinya tentang sosok pemimpin dengan tiga “kepribadian”. Atau, lebih tepatnya, dengan tiga ambisi.
Juni 14, 2008
SYEKH ABDUL QADIR Al-JAILANI: ZIKIR
Cara membebaskan dan menyucikan hati adalah mengingat Allah. Pada awalnya, zikir dilakukan secara lisan dengan menyebut namaNya berulang-ulang, melafalkannya dengan keras sehingga kita dan orang lain mendengar dan mengingat-Nya. Ketika ingatan kepadaNya telah mantap, zikir berlangsung dalam hati dan menjadi bagiab batin; yang tertinggal hanya keheningan.
“Berzikirlah (menyebut) Allah sebagaimana ditunjukkanNya kepadamu….”. (Al-Baqarah [2]: 198)
Zikir kepada Allah akan membawa kita kepada tingkat kesadaran dan keimanan tertentu dan bahwa kita hanya dapat berzikir sesuai dengan kemampuan kita. Rasulallah saw bersabda, “Kalimat terbaik adalah kalimat yang kubaca dan dibaca oleh para nabi sebelumku, Itulah kalimat La ilaha illallah.”
Tingkatan zikir:
- zikir lisan, menunjukkan bahwa hati tidak melupakan Allah,
- zikir batin, merupakan gerak perasaan,
- zikir hati, melibatkan perasaan dan kesadaran akan adanya kekuatan dan keindahan Allah dalam dirinya,
- zikir jiwa, bersinarnya cahaya Ilahi yang bersumber dari kekuatan dan keindahan Allah,
- zikir alam hakikat, kenikmatan ruhani yang bersumber dari pengungkapan hakikat Ilahi,
- zikir alam rahasia, akan membawa seseorang kepada tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa (Al-Qamar [54]: 55),
- zikir tingkatan terakhir, disebut khafi al-khahfa – rahasia yang paling sunyi – akan mengantarkan seseorang kepada keadaan fana dan kebersatuan dengan hakikat.
Jiwa ini adalah anak hakikat. Ia berada dalam diri orang yang mencari, menemukan, dan berada bersama Tuhan. Apa pun yang kita lakukan, diri jasmani ini harus mengikuti jalan yang lurus, yaitu dengan cara memelihara dan mengikuti ajaran agama; ia harus terus-menerus ingat dan berzikir menyebut nama Allah. secara lahir maupun batin. Zikir wajib hukumnya bagi orang yang melihat hakikat.
“Ingatlah (dengan menyebut nama) Allah sambil berdiri, atau duduk atau dalam keadaan terbaring”. (An-Nisa’ [4]: 103)
“… (yaitu) orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan terbaring dan mereka merenungkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau…”. (Al-‘Imran [3]: 191)
Salah satu syarat zikir adalah wudu: kesucian dan kebersihan badan maupun jiwa. Rasulallah saw bersabda, “Orang yang beriman tidaklah mati. Mereka hanya melewati kehidupan yang fana menuju kehidupan yang kekal.” Selain itu, “
Ibadah yang dimaksudkan di atas adalah shalat batin kepada Allah, bukan shalat seperti yang dilakukan di dunia, yang meliputi gerakan berdiri, ruku, sujud, dan sebagainya. Shalat batin merupakan salah satu kualitas penting yang menjadi cirri mukmin sejati. Ilmu tersebut tidak dapat diupayakan, tetapi diberikan oleh Allah kepada siapa saja yang dikehendakiNya.
(“Sirr Al-Asrar Fi Ma Yahtaju Ilayhi Al-Abrar – Rahasia Hakikat yang Dibutuhkan Para Pencari Kebaikan”, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)
SYEKH ABDUL QADIR Al-JAILANI: TOBAT
Semua maqam pada hakikatnya dicapai melalui tobat. Tobat yang sungguh-sungguh dan ikhlas merupakan langkah pertama di jalan ruhani. Orang yang bertobat seraya menyadari kesalahannya dan penyebabnya adalah seperti orang yang mencabut rumput itu hingga ke akar-akarnya. Dan, salah satu tanda diterimanya tobat adalah ketika seseorang tidak lagi melakukan dosa yang sama sepanjang hidupnya.“Ketika orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada rasulNya, dan kepada orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa (tobat). Dan mereka berhak atas kalimat takwa itu, dan patut memilikinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Al-Fath [48]: 26)
Maqam takwa memiliki makna yang sama dengan la ilaha illallah: tak ada tuhan, tak ada sesuatu pun – selain Allah. Sebab, orang yang mengetahui hal ini akan takut kehilangan Dia, kehilangan rahmat, cinta, dan kasih sayang-Nya; ia takut dan malu melakukan maksiat dan takut akan azabNya.
Cinta Ilahi takkan hidup memenuhi hati kita kecuali jika sang musuh, yakni nafsu, telah binasa dan meninggalkanmu. Untuk melawan nafsu, perangilah lebih dahulu nafsu hewani – sifat rakus, tidur yang berlebihan, kelalaian – dan perangilah sifat hewan buas dalam diri: sifat buruk, amarah, keras, dan kejam. Lalu, jauhkanlah diri dan kebiasaan jahat hawa nafsu: bersifat angkuh, sombong, iri, dendam, tamak, dan semua penyakit lahir dan batin. Dengan menempuh langkah-langkah itu berarti telah melakukan pertobatan yang sebenarnya dan menyucikan hati kita.
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertobat dan menyukai orang yang menyucikan diri”. (Al-Baqarah [2]: 222)
Tobat terbagi dua:
- tobat orang awam, yang berharap meninggalkan kejahatan menuju ketaatan dengan cara mengingat Allah serta berusaha keras meninggalkan hawa nafsu dan menaklukkan hasrat,
- tobat orang mukmin yang ikhlas, hamba sejati Allah yang telah mencapai maqam makrifat, dan telah mencapai kedekatan kepada Allah.
“Ada hamba sejati Allah yang jasad mereka di sini namun hati mereka berada tepat di bawah Arasy Allah”. (Hadits)
Hati mereka berada di langit kesembilan, di bawah Arasy. Itulah tingkatan terbaik yang dapat dicapai seorang hamba, karena di dunia yang hina ini mustahil seseorang dapat melihat DzatNya.
(“Sirr Al-Asrar Fi Ma Yahtaju Ilayhi Al-Abrar – Rahasia Hakikat yang Dibutuhkan Para Pencari Kebaikan”, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)
Selengkapnya...SYEKH ABDUL QADIR Al-JAILANI: ILMU HAKIKAT
Syekh Abdul Qadir Al-Jailany membagi ilmu terbagi dalam empat bagian:
- ilmu yang berkaitan dengan kewajiban dan aturan agama mengenai segala sesuatu dan segala perbuatan di dunia,
- ilmu yang berkaitan dengan makna batin dan sebab di balik semua ajaran itu (tasawuf – pengetahuan konseptual mengenai segala sesuatu yang bersifat zhanni atau tidak pasti),
- ilmu yang mengkaji rahasia hakikat ruhani (falsafah),
- ilmu mengenai kebenaran atau yang membahas hakikat batin ilmu.
“Agama adalah pohon, tasawuf adalah cabangnya, falsafah adalah daunnya, kebenaran adalah buahnya. Dan semua itu terkandung dalam al-Qur’an, dengan tafsir, uraian, dan takwilnya.” (Hadits)
Hamba sejati wajib melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Ia juga wajib melawan nafsu dan syahwatnya:
- nafsu melawan agama dengan memunculkan khayalan yang bertentangan dengan kenyataan,
- pada tatanan tasawuf, nafsu yang licik membujuk manusia untuk menerima dan mengikuti sebab-sebab dan konsep yang seolah-olah benar, mengikuti pesan kenabian dan ucapan para wali yang tidak sahih, serta mengikuti para guru dan pemikiran yang sesat,
- pada tatanan falsafah, nafsu selalu mendorong manusia mengaku-ngaku sebagai wali, atau bahkan Tuhan – dosa terbesar karena menjadi sekutu Allah,
- nafsu maupun setan tidak akan sampai pada tatanan kebenaran, atau hakikat – bahkan para malaikat pun tak dapat menyentuhnya.
Manusia takkan bisa mencapai hakikat kecuali dengan menyucikan dirinya, karena sifat-sifat duniawi tidak akan meninggalkannya hingga ia meraih hakikat. Ketika ia mencapai ilmu tentang hakikat Allah, semua kebodohannya sirna. Tingkatan ini takkan bisa dicapai melalui pembelajaran. Hanya Allah yang dapat mengajarkannya, tanpa perantara. Orang yang dianugerahi pengetahuan tersebut akan meraih tingkatan makrifat sehingga ia mengenal Tuhannya dan menyembahNya. Ia akan dapat melihat ruh suci dan kekasih Allah, yakni Nabi Muhammad saw, yang akan berbincang dengannya mengenai segala sesuatu, dari awal hingga akhir.
(“Sirr Al-Asrar Fi Ma Yahtaju Ilayhi Al-Abrar – Rahasia Hakikat yang Dibutuhkan Para Pencari Kebaikan”, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)
SYEKH ABDUL QADIR Al-JAILANI: MAQOM MA'RIFAT
“Dan katakanlah, serulah Allah atau serulah al-Rahman. Dengan nama mana pun kauseru, Dia memiliki nama-nama yang indah (al-Asmaul Husna)”. (Al-Isra’ [17]: 110)
Banyak firman Allah yang merupakan pedoman utama bagi manusia untuk mengetahui nama-nama Allah. Ini merupakan pengetahuan tentang wujud batin seseorang. Jika ia dapat meraihnya, niscaya ia dapat meraih maqam makrifat, yakni ketika ia mengetahui Nama Yang Esa secara sempurna.
(“Sirr Al-Asrar Fi Ma Yahtaju Ilayhi Al-Abrar – Rahasia Hakikat yang Dibutuhkan
SYEKH ABDUL QADIR Al-JAILANI: TAFAKUR
“Manusia adalah rahasiaKu dan Aku adalah rahasianya. Pengetahuan batin mengenai ilmu batin (‘ilm batin) adalah relung rahasiaKu. Jika Kumasukkan pengetahuan ini ke dalam hati hambaKu yang saleh, takkan ada yang dapat mengetahui keadaannya kecuali Aku”. (Hadits Qudsi)Pengetahuan ilmu batin (yang tak mengenal huruf dan suara) diperoleh dengan terus menerus membaca kalimat tauhid, dengan lidah dan hatinya. Hatinya telah masuk ke dalam cahaya Ilahi melalui cahaya tauhid. Dan, satu-satunya cara untuk mencapai tujuan itu adalah tafakur, suatu laku yang jarang dijalankan kaum awam. Rasulallah saw bersabda, “Tafakur sesaat lebih utama daripada ibadah seribu tahun.”
Tafakur mengenai makrifat, yang disertai tekad kuat untuk mengenal Allah swt dianggap lebih utama daripada seribu tahun ibadah. Sebab tafakur seperti itu adalah pengetahuan sejati. Dan, pengetahuan sejati adalah maqam tauhid.
Pada maqam seperti ini, tak ada pengungkapan rahasia, karena pengyingkapan rahasia ketuhanan dianggap sebagai kemaksiatan. Berbagai keajaiban yang ia tampilkan membuktikan ketinggian derajatnya. Namun, semua mukjizat itu tak ada kaitannya dengan maqam ruhaninya.
Dalam kitab berjudul “Mirshad” dikatakan, “Karamah atau kemampuan menampilkan sesuatu yang luar biasa merupakan hijab yang membuat seseorang lengah akan keadaan dirinya. Karena itu, saat-saat kemunculan karamah dianggap seperti masa-masa haid pada kaum wanita. Para wali, yang merupakan kekasih Allah, harus melewati sekurang-kurangnya seribu anak tangga. Di antara anak tangga yang pertama adalah karamah. Jika dapat melewatinya, ia dapat mendaki anak tangga lainnya. Jika tidak, langkahnya terhenti di
Kemampuan luar biasa, seperti melihat tanda-tanda keberadaan Allah – manifestasi sifat-sifatNya, ketunggalan dalam kemajemukan, hakikat di balik penampakan – dan kedekatan kepada Sang Pencipta merupakan buah amal saleh dan keikhlasan ibadah. Tetapi, semua itu masih berkaitan dengan kehidupan ragawi, dari ujung kaki hingga ke langit.
(“Sirr Al-Asrar Fi Ma Yahtaju Ilayhi Al-Abrar – Rahasia Hakikat yang Dibutuhkan Para Pencari Kebaikan”, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)
SYEKH ABDUL QADIR Al-JAILANI: MA'RIFAT
Rasulallah saw bersabda, “
Setelah itu, ia harus menetapkan tiga macam tujuan – sebenarnya surga – bagi dirinya sendiri yaitu:
- Ma’wa, surga yang menjadi tempat tinggal yang tentram atau surga duniawi.
- Na’im, taman keridhaan Allah bagi para makhlukNya atau surga yang berada di alam malaikat.
- Firdaws, surga samawi, yaitu surga yang di alam ketunggalan akal sebab, tanah air jiwa, Nama-Nama dan Sifat-Sifat Ilahi.
Tingkatan makrifat atau tingkatan yang memungkinkan kita mengenal Tuhan merupakan imbalan atas perjuangan mengikuti ajaran agama, menghilangkan kemajemukan dalam dirinya, serta memerangi hawa nafsunya untuk mencapai persatuan dan kedekatan dengan Sang Pencipta (thariqah).
Bagi orang yang telah mencapainya, tak ada bedanya antara tidur dan terjaga. Karena dalam tidur, jiwa mendapat kesempatan untuk berjalan ke rumah sejatinya yaitu alam ruh. Lalu kembali ke alam jasad dalam keadaan yang baru.
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya. Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya, dan Dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada hal itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir”. (Al-Zumar [39]: 42)
(“Sirr Al-Asrar Fi Ma Yahtaju Ilayhi Al-Abrar – Rahasia Hakikat yang Dibutuhkan