Syekh Abdul Qadir Al-Jailany membagi ilmu terbagi dalam empat bagian:
- ilmu yang berkaitan dengan kewajiban dan aturan agama mengenai segala sesuatu dan segala perbuatan di dunia,
- ilmu yang berkaitan dengan makna batin dan sebab di balik semua ajaran itu (tasawuf – pengetahuan konseptual mengenai segala sesuatu yang bersifat zhanni atau tidak pasti),
- ilmu yang mengkaji rahasia hakikat ruhani (falsafah),
- ilmu mengenai kebenaran atau yang membahas hakikat batin ilmu.
“Agama adalah pohon, tasawuf adalah cabangnya, falsafah adalah daunnya, kebenaran adalah buahnya. Dan semua itu terkandung dalam al-Qur’an, dengan tafsir, uraian, dan takwilnya.” (Hadits)
Hamba sejati wajib melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Ia juga wajib melawan nafsu dan syahwatnya:
- nafsu melawan agama dengan memunculkan khayalan yang bertentangan dengan kenyataan,
- pada tatanan tasawuf, nafsu yang licik membujuk manusia untuk menerima dan mengikuti sebab-sebab dan konsep yang seolah-olah benar, mengikuti pesan kenabian dan ucapan para wali yang tidak sahih, serta mengikuti para guru dan pemikiran yang sesat,
- pada tatanan falsafah, nafsu selalu mendorong manusia mengaku-ngaku sebagai wali, atau bahkan Tuhan – dosa terbesar karena menjadi sekutu Allah,
- nafsu maupun setan tidak akan sampai pada tatanan kebenaran, atau hakikat – bahkan para malaikat pun tak dapat menyentuhnya.
Manusia takkan bisa mencapai hakikat kecuali dengan menyucikan dirinya, karena sifat-sifat duniawi tidak akan meninggalkannya hingga ia meraih hakikat. Ketika ia mencapai ilmu tentang hakikat Allah, semua kebodohannya sirna. Tingkatan ini takkan bisa dicapai melalui pembelajaran. Hanya Allah yang dapat mengajarkannya, tanpa perantara. Orang yang dianugerahi pengetahuan tersebut akan meraih tingkatan makrifat sehingga ia mengenal Tuhannya dan menyembahNya. Ia akan dapat melihat ruh suci dan kekasih Allah, yakni Nabi Muhammad saw, yang akan berbincang dengannya mengenai segala sesuatu, dari awal hingga akhir.
(“Sirr Al-Asrar Fi Ma Yahtaju Ilayhi Al-Abrar – Rahasia Hakikat yang Dibutuhkan Para Pencari Kebaikan”, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar