Sesungguhnya karunia yang paling bernilai, yang paling agung, permata yang paling mahal, dan harta yang paling menguntungkan adalah ilmu. Dan, hanya melalui hikmah kita dapat mencapai keesaan Allah – Tuhan semesta alam – serta memahami dan mendalami para rasul dan para nabi-Nya. Orang berilmu dan kaum bijak adalah hamba Allah yang suci yang dipilih oleh Allah untuk menerima pesan Ilahi.
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya adalah orang yang berilmu”. (Fathir [35]: 28)
Ilmu yang dibutuhkan untuk mengenalNya hanya dapat diraih dengan membuka tabir yang menutupi cermin hati, dan membersihkannya hingga berkilau. Barulah kemudian keindahan Ilahi yang selama ini tersembunyi akan memancar darinya. Ilmu Ilahi terbagi ke dalam dua tingkatan, yakni pertama mengenal Sifat-Sifat dan Manifestasi Allah, dan kedua mengenal Dzat Allah. Tingkatan pertama diraih dengan ilmu yang nyata, sedangkan tingkatan kedua didapat dengan ilmu yang gaib.
Ilmu yang nyata berbentuk ajaran-ajaran agama dan yang gaib dalam bentuk hikmah. Allah swt memerintahkan kita untuk menyelaraskan wujud lahiriah kita dengan ajaran agama dan menata wujud batiniah kita dengan hikmah. Perpaduan keduanya akan menghadirkan tingkatan hakikat.
“Barang siapa berharap akan pertemuan dengan Tuhan, hendaklah ia beramal saleh dan tidak menyekutukan Tuhannya dalam beribadah kepadaNya”. (Al-Kahfi [18]: 110)
Hakikat akan mewujud melalui pertobatan dan upaya sungguh-sungguh mempelajari ilmu agama. Keindahannya akan memancar ke permukaan ketika seseorang senantiasa mengingat Allah dan selalu membaca kalimat penyaksian La ilaha illallah. Awalnya, ia membaca dengan lidahnya, lalu hatinya menjadi hidup, dan akhirnya ia membacanya secara sirr dalam hatinya. Kaum sufi menyebut tahapan sebagai “thifl – bayi”, karena bayi dilahirkan dalam hati, lalu diasuh dan dibesarkan di
Rasulallah saw bersabda, “Pada hari itu kau akan melihat Tuhanmu laksana melihat bulan purnama.” Kendati demikian, keadaan ini, jika didekati oleh makhluk, bahkan malaikat sekali pun, akan menghancurkannya menjadi debu.
“Seandainya Kubuka tabir sifatKu Yang Mahaperkasa meski sesaat, niscaya segalanya terbakar musnah sejauh mataKu memandang”. (Hadits Qudsi)
(“Sirr Al-Asrar Fi Ma Yahtaju Ilayhi Al-Abrar – Rahasia Hakikat yang Dibutuhkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar