Cerita tentang shalat adalah cerita tentang ritual rutin kaum Muslim di mana pun ketika adzan berkumandang. Shalat lima waktu adalah salah satu “warisan” besar Baginda Rasulallah Saw yang dipetik melalui perjalanan Isra Mi’raj. Karena itu, kalangan Sufi (terutama yang berlabelkan amaliyah) akan menjadikannya kesempatan untuk memaksimalkan momen tersebut tanpa mengenal kata lelah. Mereka curahkan seluruh waktunya untuk mendirikan shalat hinggat berpuluh-puluh rakaat. Ibunda Zuhud Rabi’ah Al-Adawiyah menebar kasih dengan Yang Mahamencintai dengan shalat malam hingga 1000 rakaat. Subhanallah.
Buat kita, yang masih berputar pada tatanan syariat, semoga saja sudah merasakan nikmatnya shalat. Sehingga, praktek nawafil seperti yang diperlihatkan Baginda Rasulallah Saw – yang menjadikan shalat sunnah laksana shalat fardhu – juga telah didirikan secara istiqomah. Bahkan, ketika kesibukan terus memburu dan waktu terus membelenggu, kita akan segera mengingat waktu-waktu pertemuan dan bercengkerama dengan Yang Mahamencipta.
Itu pun dengan catatan, kita mendirikan Rukun Islam ke-2 itu dengan niat dan ilmu yang memadai. Dalam pengertian, keinginan mulia itu tidak didasarkan untuk riya, sum’ah, atau ujub. Tapi, murni karena Allah. Semua karena cinta kita kepada Allah. Dan disertai dengan ilmu yang memadai, tentu saja, didasarkan pada pengetahuan fiqih yang terus membaik dan memahami makni sufistik yang mendalam. Sehingga, kita benar-benar mendapatkan makna “shalatnya orang mukmin yang laksana mi’raj!”
Sebuah hadits qudsi menjabarkan tentang pesan sufistik dari shalat kita, “Sesungguhnya Aku hanya akan menerima shalat orang-orang yang merendahkan dirinya karena kebesaranKu, menahan dirinya dari hawa nafsu karena Aku, yang mengisi sebagian waktu siangnya untuk berzikir kepadaKu, yang melazimkan hatinya untuk takut kepadaKu, yang tidak sombong terhadap makhlukKu, yang memberi makan kepada orang yang lapar, yang memberi pakaian kepada orang yang telanjang, yang menyayangi orang terkena musibah, yang memberikan perlindungan kepada orang yang terasing. Kelak cahaya orang itu akan bersinar seperti cahaya matahari. Aku akan berikan cahaya ketika dia kegelapan. Aku akan berikan ilmu ketika dia tidak tahu. Aku akan lindungi dia ketika kebesaranKu. Aku akan suruh malaikat menjaganya. Kalau dia berdoa kepadaKu, Aku akan segera menjawabnya. Kalau dia meminta kepadaKu, Aku akan segera memenuhi permintaannya. Perumpamaannya di hadapanKu seperti perumpamaan firdaus.” (Kalimatullah Al-‘Ulya, h. 264)
Pesan utama hadits qudsi itu adalah penyerahan diri secara total dengan kerendahan hati, membuang sifat-sifat kebinatangan kita, menyingkirkan nafsu duniawi yang tak terbatas, mencintai makhluk Tuhan lainnya, dan kepedulian yang tinggi.
“Yang tidak sombong terhadap makhlukKu” maksudnya adalah tidak takabur. Menurut Imam Il Ghazali, takabur ialah sifat orang yang merasa dirinya lebih besar daripada orang lain. Kemudia ia memandang enteng orang lain itu. Boleh jadi, ia bersikap demikian dikarenakan ilmu, amal, keturunan, kekayaan, anak buah (kekuasaan), atau kecantikannya.
Saya memberikan catatan khusus untuk pasal hubungan kita dengan manusia lain (makhlukKu). Karena, hal ini menjadi sandungan terbesar dalam peraihan nilai mulia shalat kita. Sungguh sayang, dengan banyaknya rakaat shalat yang sudah didirikan, tapi harus tergerus karena masalah itu. Bisa saja, mungkin kita belum mendapati ilmunya. Sehingga, tanpa sadar mengabaikan masalah tersebut. Tapi, bisa juga, karena kita memang masih dituntut untuk sombong karena keadaan. Misalnya saja karena kemuliaan yang kita dapat di tempat kerja. Godaan jabatan, maksudnya.
Peringatan tentang munculnya makhluk sombong yang merajalela dengan kekuasaan dan kekhilafannya, sebenarnya telah diingat Baginda Rasullah Saw dalam sabda-sabdanya. “Akan datang suatu zaman di mana orang-orang berkumpul di masjid untuk shalat berjamaah tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang Mukmin.” Atau hadits lain, “Nanti akan datang suatu zaman di mana seorang muazin melantunkan azan, kemudian orang-orang menegakkan shalat, tetapi di antara mereka tidak ada yang Mukmin.” (Kanzu; ‘Ummal, hadits ke-3.110)
Artinya, orang-orang yang berkumpul di masjid – entah di masjid di kantor kita atau rumah kita – sesungguhnya bukan kaum Mukmin. Mereka sebenarnya muslim seperti kita. Shalat berjamaah bersama kita. Tapi, ternyata tidak lagi menjadi bagian dari kita.
Kita berandai-andai, mereka datang terlebih dahulu dan didaulat menjadi imam shalat. Pernahkan terpikir bagaimana shalat kita? Pernahkan terpikir, jangan-jangan mereka termasuk dalam kelompok orang-orang yang berprilaku atau bersikap sombong terhadap makhluk Allah yang lain?
Pada riwayat lain, Nabi Saw bersabda, ”Tidak ada kebajikan yang lebih utama setelah iman selain mendatangkan manfaat bagi orang lain; dan tidak ada kejelekan yang lebih jahat setelah musyrik selain mendatangkan kesengsaraan pada orang lain.”
Prilaku dan sikap sombong, dalam lingkungan tertentu, pada akhirnya membuahkan kesengsaraan buat orang lain. Banyak contoh yang bisa diurai. Tapi, silahkan Anda mengimajinasikannya secara liar. Jangan-jangan, kita di kelilingi oleh orang-orang semacam itu. Dan, dengan segala atribut keduniawiannya. Melalui sabdanya, Baginda Rasulallah Saw telah memasukkan orang semacam itu bukan hanya Muslim yang belum Mukmin, tapi Muslim yang telah musyrik! Bahkan di atas musyrik.
Musyrik artinya menyekutukan Tuhan. Dan, itu sama artinya dengan murtad. Bayangkan, tanpa sadar, dengan kesombongan dan akibat yang ditimbulkannya, dan dengan shalat yang telah dibangun, justru masih berbuah kemurtadan! Na’udzubillah.
Tidak hanya di situ, orang atau kelompok yang mendukung prilaku dan sikap seperti itu, ternyata mendapat ganjaran yang sama. Murtad alias keluar dari agama Islam. Ini kutipan yang saya dapat dari buku KH Jalaluddin Rakhmat:
Syahadat kita batal bila belum melepaskan diri dari pengabdian kepada sesama manusia, bila kita dengan rela menyerahkan diri kita untuk diperbudak, ditindas, dan diperlakukan sewenang-wenang oleh orang lain. Menyerahkan diri kepada kezaliman berarti membantu kezaliman. Rasulallah Saw bersabda: “Barang siapa berjalan bersama orang zalim dan membantunya, padahal ia tahu orang itu zalim, ia telah keluar dari Islam.” (Kanzul ‘Ummal 14: 955)
Sebelum tercebur terlalu jauh dalam jurang kemurtadan dan bersimbahkan dengan air kotornya, segeralah meraih ilmu shalat itu sendiri. Baik fiqih yang mengarahkan tata-caranya maupun makna sufistik yang ada di dalamnya. Lalu, segera berdoa seperti yang pernah dialunkan cicit Baginda Rasulallah Saw, Imam Ali Zainal Abidin.
Apologi kepada Tuhan
Ya Allah,
Aku mohon ampun kepadaMu
di hadapanku ada orang yang dizalimi
aku tidak menolongnya
Kepadaku ada orang berbuat baik
aku tidak berterima kasih kepadanya
Orang bersalah meminta maaf kepadaku
aku tidak memaafkannya
Orang susah memohon bantuan kepadaku
aku tidak menghiraukannya
Ada hak orang Mukmin dalam diriku
aku tidak memenuhinya
Tampak di depanku aib Mukmin
aku tidak menyembunyikannya
Dihadapkan kepadaku dosa
aku tidak menghindarinya
Ilahi,
Aku mohon ampun
dari semua kejelekan itu
dan yang sejenis dengan itu
Aku sungguh menyesal
biarlah itu menjadi peringatan
agar aku tidak berbuat yang sama sesudahnya
Sampaikan salawat kepada Muhammad dan keluarganya
Penyesalanku atas segala kemaksiatan
Tekadku untuk meninggalkan kedurhakaan
Jadikan itu semua
tobat yang menarik kecintaanMu
Wahai Dzat Yang Mencintai
orang-orang yang bertobat
(Kitab “Fi Rihab Al-Shahifah Al-Sajjadiyah”, Sayyid Abbas Ali Al-Masawi)
(Referensi: Jalaluddin Rakhmat, “Membuka Tirai Kegaiban – Renungan-Renungan Sufistik”, Bandung, Mizan, 2008)
Maret 19, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar